Embung di Kendal Terus Dioptimalkan Potensinya untuk Wisata dan Budidaya Ikan

AKURAT.CO SEMARANG - Pemerintah Provinisi Jawa Tengah melalui bantuan keuangan membangun ratusan embung agar menjadi solusi bagi para petani yang kesulitan air ketika musim kemarau.
Di Kabupaten Kendal, ada dua embung yang dibangun di tahun 2022 antara lain Embung Pancur dan Rowobranten.
Bupati Kendal Dico M Ganinduto pun berharap berdampak terhadap semua sektor, tidak hanya pertanian, tapi bisa juga untuk budidaya ikan dan wisata.
Baca Juga: Semarang Kategori Rawan Konflik, Mbak Ita Ajak Tokoh Agama Jaga Kondusifitas Selama Tahun Politik
Bupati Kendal mengatakan, pengembangan fungsi embung merupakan salah satu dari beberapa program pembangunan Pemkab Kendal yang berbasis dampak.
"Karena dampaknya besar bukan hanya satu kelompok, tapi beberapa sektor lainnya," tutur Bupati pada Kamis (19/10/2023).
Embung memang dimanfaatnkan untuk menampung air saat musim hujan. Dan bisa menyuplai air untuk irigasi 30-70 hektare lahan di sekitarnya saat musim kemarau.
Baca Juga: Ciptakan Gim Berantas Korupsi, Mahasiswa UNNES Raih Penghargaan dari KPK
Embung juga bisa digunakan untuk aktifitas ekonomi lain seperti wisata dan pembudidayaan ikan.
Dico menegaskan bahwa embung bisa meningkatkan ketahanan pangan. Bupati Kendal juga sudah menyelesaikan program berbasis dampak dalam optimalisasi embung dengan menebar benih ikan dan peresmian wisata embung Rowobranten pada Maret 2022 lalu.
“Alhamdulillah semua sudah selesai. Salah satunya pembangunan embung, adalah program berbasis dampak,” imbuh Dico.
Dalam laporan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, salah satu embung, yakni embung Pancur dibangun di atas tanah seluas 4.000 meter persegi, dengan luas embung 2.000 meter persegi.
Baca Juga: Pasangan Ganjar-Mahfud MD Daftar ke KPU, Mbak Ita Siap Menangkan Calon PDIP di Pilpres 2024
Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Bumi Mandiri Desa Bumiayu Kecamatan Weleri juga embung di wilayahnya menjadi tempat wisata.
Beraneka kuliner tersedia, masyarakat juga dimanjakan fasilitas wifi gratis.
Kepala Desa Bumiayu Moh Johan menjelaskan embung untuk persawahan seluas 30 hektare itu juga menjadi tempat pengelolaan sampah dan usaha persewaan.
Dengan dioptomalkannya potensi embung, petani di Desa Bumiayu jelas berharap lebih. Karena embung tersebut juga dinilai belum mampu menjawab ekspektasi petani.
Baca Juga: PSIS Semarang Bersiap Hadapi Persikabo 1973 Pasca Jeda FIFA Matchday di BRI Liga 1 2023/24
Hal tersebut dikatakan oleh petani perempuan bernama Sriyati (61). Dia mengatakan embung tersebut belum secara maksimal bisa dimanfaatkan petani karena tidak ada saluran. Petani baru bisa menggunakan air embung jika memiliki meisn pompa.
“Jadi air di dalam embung itu tidak bisa dialirkan otomatis ke lahan kami, harus menggunakan mesin pompa,” ujar Sriyati.
Bagi Sriyati yang merupakan petani perempuan dengan usia cukup tua jelas merasa embung tersebut tidak bisa mengairi, karena tidak ada salurannya. Sebenarnya bisa airnya ditimba, tapi karena Sriyati petani perempuan yang cukup renta jadi tidak mampu.
“Tadinya seharusnya kami bisa menanami padi, tapi sekarang tidak bisa. Kondisinya kami petani perempuan itu membayar petani laki-laki untuk mengambilkan air ke lahan kami. Tadinya sebelum ada embung kan sebenarnya pengairan lahan kami melalui sungai, tapi justru setelah adanya embung jadinya malah rasanya jadi sulit mengalirkan air,” jelas Sriyati.
Baca Juga: Pemkot Semarang dan Bank Indonesia Kolaborasi Bangun Toko TPID demi Kendalikan Inflasi
Pembangunan embung Bumiayu sendiri dilakukan sekitar tahun 2011 dengan dua tahap, untuk tahap pertama pengerukan dan tahap dua pemasangan pagar serta paving sekitar embung.
Pembangunan embung tersebut dibangun tepat ditepi sungai agar bisa menampung air dengan harapan mempermudah petani dalam melakukan pengairan lahan. Namun yang terjadi malah muncul permaslahan baru.
“Sekarang kan sungainya ditutup embung. Niatnya untuk memperudah, tapi malah ya beginilah. Dulu bisa ditanami padi, tapi sekarang Cuma jagung, palawija, atau tembakau. Sekarang kan jadinya susah kami,” tandas Sriyati.
Baca Juga: Siswa SMKN 1 Tengaran Ciptakan Mobil Listrik, Bupati Semarang Terkesan
Sementara itu, Sekretaris Desa Bumiayu Kecamatan Weleri Kendal, Dwi Budi Santoso mengatakan sebenarnya air embung berasal dari dua sumber, yaitu air tanah dan tadah hujan, sehingga di saat musim kemarau diharapkan tetap bisa digunakan.
“Kalau untuk embung selama ini kan berasal dari air tanah sama tadah hujan. Walaupun kering, saat ini masih ada air dan masih bisa digunakan petani,” ujarnya.
Saat ini, Budi melaporkan, petani di sekitar embung Bumiayu mayoritas bertani jagung, melon, singkong, dan tebu. Kemudian para petani di area embung ini masih menggunakan pompa air karena belum didirikan sodetan.
“Kalau diri segi pengairan kalau inputnya lancar sangat bermanfaat. Namun berubung musim panas jadi kurang maksimal. Kalau dulu input air kan dari sungai, kalau sekarang kan input airnya tidak ada,” ujar Budi.
Budi mengatakan embung tersebut masih diperhatikan dari Pemerintah Provinsi. Budi melanjutkan, embung tersebut akan dibuatkan sender di sebelahnya untuk antisipasi jika air sungai meluap.
“Embung tersebut jika musim hujan meluap ke utara jika tidak dipasng talud erosi,” ujar Budi.
Upaya penyejahteraan petani yang digalakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan membangun juga mendapat apresiasi masyarakat.
Contohnya embung yang berada di Desa Tejorejo Kecamatan Ringinarum Kabupaten Kendal.
Embung yang merupakan program bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang beroprasi 21 Mei 2018 dan dibangun oleh kontraktor PT Dwi Perkasa Utama ini disambut warga dengan antusias meakipun perlu pembenahan.
Zaini, seorang petani di Desa Tejorejo yang tinggal di dekat embung hingga saat ini belum bisa menggunakan air embung karena saat kemarau, embung menjadi kering.
"Kalau musim kemarau kayak gini malah kering kerontang," ujar Zaini.
Zaini memperlihatkan kepada wartawan posisi berdirinya embung itu yang ada di tepian sungai. Sebagian badan embung juga menjorok ke sungai dengan harapan menampung air sungai.
"Jadi embung ini dibangun di pinggir sungai yang sebenarnya alirannya lancar. Nah harapannya, embung ini menampung air sungai untuk dimanfaatkan petani," tukas Zaini.
Untuk mengatasi masalah banjir, Zaini mengatakan pemerintah Desa telah menjanjikan pembangunan tanggul sebagai penghalang air.
Letak embung ini sebenarnya berada di RT 5 RW 4 Dukuh Bakalan, tepat di perbatasan Desa Tejorejo dan Ringinarum. Namun memang peruntukan embung ini untuk dimanfaatkan oleh petani Tejorejo.
Selain itu, jika musim kemarau tiba, petani tidak dapat memanfaatkan embung karena debit air yang menurun hingga setengah meter.
Padahal dalam embung mencapai 5 meter.
Wati, petani perempuan Tejorejo menegaskan bahwa di musim kemarau ini tidak banyak lahan yang bisa memanfaatkan air dari embung.
Menurutnya, paling hanya radius 20 sampai 30 meter saja.
"Itupun sudah sangat kesulitan karena pompa air tidak bisa menaikkan air dari kedalaman 5 meter," ujar Wati.
Sekarang ini kondisi air terus menurun hingga menyisakan setengah meter dari dasar embung.
"Padahal kalau penuh bisa mencapai 5 meter dalam airnya," tegas Wati.
Pada saat embung ini berdiri, Pemerintah Desa Tejorejo Kecamatan Ringinarum akan memanfaatkannya untuk tempat wisata.
Namun kendala yang terjadi saat ini belum ada akses jalan, karena harus melewati lahan milik warga.
Berdasarkan laporan Pemerintah Desa Tejorejo, untuk membuka akses jalan, pihak desa sedang memproses pengadaan tanah dan membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis). (Lomba Pemprov)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Profil Instagram Ko Hyung-jin Wasit Indonesia vs Malaysia, Sejarah Kelam 2019 Kembali Terbayang usai Tom Haye Dikartu Merah!
- 2LIVE SCORE Indonesia vs Malaysia, Skor 0-0 Menit ke-70 Thom Haye Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME Menang Siapa?
- 3Kalender Jawa Oktober 2026: Weton, Neptu, dan Rekomendasi Hari Baik untuk Hajatan
- 4Laga PERSIKU VS PSIS BATAL DIGELAR! Ini Alasan Manajemen Tuan Rumah Terkait Pembatalan Pertandingan
- 5Laga Persiku vs PSIS Mendadak BATAL Digelar, Netizen: Harusnya Tuan Rumah Kalah WO!
- 6F1 Ubah Jadwal GP Azerbaijan ke Sabtu, Ternyata Ini Penyebabnya
- 7Panduan Lengkap Kalender Jawa November 2026, dari Minggu Pahing hingga Senin Legi
- 8MotoGP 2026 Masuki Fase Akhir: Ini Jadwal Lengkap Sisa Balapan
- 9PLN Umumkan Pemeliharaan Jaringan di Semarang Timur, Listrik Padam 6 Jam
- 10TNT Awards Jateng 2026 Dorong Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah



