Jateng

Mitos Larangan Menikah di Bulan Suro: Benarkah Bila Melanggar Pantangan Bisa Mengundang Malapetaka?

Theo Adi Pratama | 4 Juni 2024, 21:03 WIB
Mitos Larangan Menikah di Bulan Suro: Benarkah Bila Melanggar Pantangan Bisa Mengundang Malapetaka?

JATENG.AKURAT.CO, Di kalangan masyarakat Jawa, bulan Suro memiliki makna khusus yang terkait erat dengan tradisi dan kepercayaan leluhur.

Salah satu larangan yang dikenal luas adalah larangan menggelar hajatan atau menikah pada bulan Suro.

Namun, apakah benar-benar dilarang menikah di bulan Suro? Atau, apakah larangan tersebut hanya sekadar mitos belaka?

Baca Juga: Menyingkap Fakta Dibalik Mitos Burung Pipit Berkicau: Memahami Pesan Tersembunyi Dibalik Kicauannya

Asal-Usul Larangan

Larangan menikah di bulan Suro berasal dari kepercayaan tradisional Jawa yang menganggap bulan Suro sebagai bulan yang penuh kesialan.

Bulan Suro, yang bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Islam, dianggap sebagai waktu yang tidak baik untuk melangsungkan berbagai kegiatan besar, termasuk pernikahan.

Menurut kepercayaan ini, bulan Suro adalah periode yang penuh dengan energi negatif dan rawan terhadap malapetaka.

Peran Tetua Adat dan Dukun

Para tetua adat dan dukun di masyarakat Jawa memegang peranan penting dalam menjaga dan meneruskan tradisi larangan ini.

Mereka percaya bahwa melanggar larangan menikah di bulan Suro dapat membawa kesialan bagi calon pengantin.

Oleh karena itu, mereka sering memberikan nasihat dan mengadakan upacara adat untuk memastikan tradisi ini tetap dijalankan.

Baca Juga: Mengungkap Mitos dan Misteri Dibalik Ayam Berkokok di Malam Hari: Apakah Ada Pertanda Suatu Hal? Berikut Penjelasannya!

Upacara Adat dan Ritual

Untuk menghormati larangan tersebut, beberapa upacara adat dilakukan sebagai bentuk pencegahan datangnya kesialan.

Salah satu bentuk upacara yang dilakukan adalah selamatan dan doa bersama.

Upacara ini bertujuan untuk memohon perlindungan dan keberkahan agar terhindar dari nasib buruk yang diyakini bisa menimpa mereka yang melanggar larangan menikah di bulan Suro.

Modernisasi dan Kepercayaan Tradisional

Meski zaman telah berubah dan modernisasi telah merambah banyak aspek kehidupan, tradisi larangan menikah di bulan Suro masih tetap dijaga oleh sebagian masyarakat Jawa.

Hal ini menunjukkan betapa kuatnya kepercayaan dan penghargaan terhadap tradisi leluhur yang masih dipegang teguh.

Tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kearifan lokal dan budaya Jawa yang patut dijaga keberadaannya.

Baca Juga: Mengulik Mitos di Masyarakat: Benarkah Memakai Baju Terbalik Membawa Keberuntungan? Ini Penjelasannya Dalam Budaya Jawa!

Larangan menikah di bulan Suro merupakan tradisi yang berakar kuat dalam kepercayaan masyarakat Jawa.

Meskipun tidak memiliki dasar ilmiah, tradisi ini tetap dihormati dan dipatuhi oleh banyak orang sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan leluhur.

Dengan demikian, larangan menikah di bulan Suro bukan sekadar mitos, melainkan bagian penting dari budaya dan kearifan lokal yang mencerminkan identitas masyarakat Jawa.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.