Jateng

Keberagaman Suku Bangsa Indonesia: Suku Naulu dengan Tradisi Pemenggalan Kepala untuk Mas Kawin dan Ritual Pengasingan Bagi Perempuan

Theo Adi Pratama | 10 Mei 2024, 11:38 WIB
Keberagaman Suku Bangsa Indonesia: Suku Naulu dengan Tradisi  Pemenggalan Kepala untuk Mas Kawin dan Ritual Pengasingan Bagi Perempuan

JATENG.AKURAT.CO, Indonesia, dengan kekayaan alamnya yang melimpah, tidak hanya menjadi rumah bagi keanekaragaman flora dan fauna, tetapi juga bagi keberagaman budaya yang memikat.

Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, setiap sudut negeri ini dihuni oleh berbagai suku bangsa atau kelompok etnis dengan cara hidup, budaya, dan tradisi yang khas.

Meskipun zaman terus berubah dan modernisasi merambah, keberadaan suku-suku kecil dengan kebudayaan unik masih tetap terjaga.

Salah satu dari sekian banyak suku kecil yang masih lestari dengan kebudayaannya adalah Suku Naulu, yang mendiami kawasan pesisir selatan Pulau Seram, Maluku.

Sebagian besar masyarakat Naulu berasal dari Maluku Utara, khususnya Pulau Halmahera.

Baca Juga: Misteri Tersembunyi Khao Lak, Thailand: Pantai dengan Pesona Alam yang Indah Namun Dihantui Arwah Korban Tsunami

Setelah perang hotebanggoi, mereka bermigrasi ke wilayah selatan Pulau Seram dan menetap di hulu Sungai Noa di Desa Sepa, Kecamatan Amahai.

Suku Naulu tersebar di beberapa desa di Pulau Seram, termasuk di Desa Sepa, Seram, di daerah Yaisuru, Nua Nea, Bunara, Latan (Kampung Lama), Hahuwalan, Simalouw, Rohua, dan Rohua Waemanesi.

Sistem kemasyarakatan mereka terorganisir dalam 12 klan atau marga, seperti Pia, Matoke, Kamama, Sounawe Aepura, Sounawe Aenakahata, Sopalani, Perissa, Hury, Nahatue, Soumory, Leipary, dan Rumalait.

Salah satu ciri khas yang melekat pada Suku Naulu adalah cara berpakaian, terutama pada kaum laki-laki.

Mereka biasanya mengenakan natahari atau kaeng berang, kain merah yang diikat di kepala, memberikan sentuhan identitas yang kuat bagi suku ini.

Secara etnis, Suku Naulu memiliki hubungan dengan Manusela dalam hal bahasa dan keyakinan Naurus, meskipun juga terdapat pengikut agama Hindu di antara mereka.

Baca Juga: Menguak Misteri Terbengkalainya Pabrik Sepatu Bang Pu, Thailand: Pemilik Pabrik yang Mengakhiri Hidup di Dalam Pabrik dan Bergentayangan

Naurus sendiri merupakan agama turun-temurun yang dipeluk oleh Suku Naulu, dengan keyakinan akan adanya Tuhan pencipta alam semesta yang gaib dan maha agung yang disebut Upuku Anahatana.

Meskipun agama ini tidak diakui secara resmi oleh negara, Suku Naulu sering kali mencantumkan agama lain yang diakui dalam urusan administratif seperti pendidikan, pernikahan, dan pembuatan dokumen resmi.

Suku Naulu dikenal dengan sejumlah tradisi khas yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satunya adalah pataheri, sebuah ritual penting bagi para lelaki yang telah dianggap dewasa.

Selama ritual ini, yang disebut juga sebagai upacara cidaku, para lelaki akan menjalani serangkaian prosesi, termasuk puasa selama satu hari yang dimulai sejak dini hari hingga sore hari.

Setelah berpuasa, mereka akan berkumpul di numa onate atau rumah utama, dan mengenakan pakaian adat karanunu onate.

Baca Juga: Kisah Pilu Baiyoke Sky Hotel Thailand: Kecelakaan Pekerja Konstruksi yang Menyisakan Misteri dan Kisah Mistis yang Melingkupinya

Dipimpin oleh seorang kapitan atau panglima perang, mereka akan menuju rumah orang tua kapitan untuk memohon doa agar diberikan keberanian dan terhindar dari bahaya.

Kemudian, mereka kembali ke numa onate untuk mengambil perlengkapan seperti parang, panah, tombak, dan tas berisi sirih pinang.

Salah satu tradisi yang mungkin mengejutkan bagi banyak orang adalah praktik pemenggalan kepala manusia.

Suku Naulu mempercayai bahwa memenggal kepala manusia adalah persembahan kepada nenek moyang yang wajib dilakukan demi keselamatan dan simbol kebanggaan serta kekuatan.

Bahkan, kepala manusia dapat dijadikan mas kawin saat pernikahan, menjadi warisan dari masa lalu ketika raja Suku Naulu memilih calon menantunya berdasarkan bukti kejantanan.

Selain ritual pataheri untuk laki-laki, ada juga ritual pinamou untuk perempuan yang menandai kedewasaan mereka.

Ritual ini melibatkan pengasingan sementara perempuan yang baru saja mengalami menstruasi pertama, karena darah haid dianggap tidak baik bagi lingkungan adat.

Mereka akan diasingkan selama sebelas hari di posune, sebuah rumah kecil terbuat dari daun rumbia, sebelum diarak keliling kampung untuk menunjukkan bahwa mereka sudah siap menikah.

Keberadaan Suku Naulu dan tradisi-tradisi mereka merupakan bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia yang patut dilestarikan dan dihormati.

Meskipun mungkin terasa aneh atau tidak dimengerti bagi sebagian orang, tradisi-tradisi ini memiliki nilai dan makna yang dalam bagi masyarakat Naulu, dan merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas mereka sebagai suku yang unik di Indonesia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.