Keberagaman Suku Bangsa Indonesia: Suku Naulu dengan Tradisi Pemenggalan Kepala untuk Mas Kawin dan Ritual Pengasingan Bagi Perempuan

JATENG.AKURAT.CO, Indonesia, dengan kekayaan alamnya yang melimpah, tidak hanya menjadi rumah bagi keanekaragaman flora dan fauna, tetapi juga bagi keberagaman budaya yang memikat.
Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, setiap sudut negeri ini dihuni oleh berbagai suku bangsa atau kelompok etnis dengan cara hidup, budaya, dan tradisi yang khas.
Meskipun zaman terus berubah dan modernisasi merambah, keberadaan suku-suku kecil dengan kebudayaan unik masih tetap terjaga.
Salah satu dari sekian banyak suku kecil yang masih lestari dengan kebudayaannya adalah Suku Naulu, yang mendiami kawasan pesisir selatan Pulau Seram, Maluku.
Sebagian besar masyarakat Naulu berasal dari Maluku Utara, khususnya Pulau Halmahera.
Setelah perang hotebanggoi, mereka bermigrasi ke wilayah selatan Pulau Seram dan menetap di hulu Sungai Noa di Desa Sepa, Kecamatan Amahai.
Suku Naulu tersebar di beberapa desa di Pulau Seram, termasuk di Desa Sepa, Seram, di daerah Yaisuru, Nua Nea, Bunara, Latan (Kampung Lama), Hahuwalan, Simalouw, Rohua, dan Rohua Waemanesi.
Sistem kemasyarakatan mereka terorganisir dalam 12 klan atau marga, seperti Pia, Matoke, Kamama, Sounawe Aepura, Sounawe Aenakahata, Sopalani, Perissa, Hury, Nahatue, Soumory, Leipary, dan Rumalait.
Salah satu ciri khas yang melekat pada Suku Naulu adalah cara berpakaian, terutama pada kaum laki-laki.
Mereka biasanya mengenakan natahari atau kaeng berang, kain merah yang diikat di kepala, memberikan sentuhan identitas yang kuat bagi suku ini.
Secara etnis, Suku Naulu memiliki hubungan dengan Manusela dalam hal bahasa dan keyakinan Naurus, meskipun juga terdapat pengikut agama Hindu di antara mereka.
Naurus sendiri merupakan agama turun-temurun yang dipeluk oleh Suku Naulu, dengan keyakinan akan adanya Tuhan pencipta alam semesta yang gaib dan maha agung yang disebut Upuku Anahatana.
Meskipun agama ini tidak diakui secara resmi oleh negara, Suku Naulu sering kali mencantumkan agama lain yang diakui dalam urusan administratif seperti pendidikan, pernikahan, dan pembuatan dokumen resmi.
Suku Naulu dikenal dengan sejumlah tradisi khas yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satunya adalah pataheri, sebuah ritual penting bagi para lelaki yang telah dianggap dewasa.
Selama ritual ini, yang disebut juga sebagai upacara cidaku, para lelaki akan menjalani serangkaian prosesi, termasuk puasa selama satu hari yang dimulai sejak dini hari hingga sore hari.
Setelah berpuasa, mereka akan berkumpul di numa onate atau rumah utama, dan mengenakan pakaian adat karanunu onate.
Dipimpin oleh seorang kapitan atau panglima perang, mereka akan menuju rumah orang tua kapitan untuk memohon doa agar diberikan keberanian dan terhindar dari bahaya.
Kemudian, mereka kembali ke numa onate untuk mengambil perlengkapan seperti parang, panah, tombak, dan tas berisi sirih pinang.
Salah satu tradisi yang mungkin mengejutkan bagi banyak orang adalah praktik pemenggalan kepala manusia.
Suku Naulu mempercayai bahwa memenggal kepala manusia adalah persembahan kepada nenek moyang yang wajib dilakukan demi keselamatan dan simbol kebanggaan serta kekuatan.
Bahkan, kepala manusia dapat dijadikan mas kawin saat pernikahan, menjadi warisan dari masa lalu ketika raja Suku Naulu memilih calon menantunya berdasarkan bukti kejantanan.
Selain ritual pataheri untuk laki-laki, ada juga ritual pinamou untuk perempuan yang menandai kedewasaan mereka.
Ritual ini melibatkan pengasingan sementara perempuan yang baru saja mengalami menstruasi pertama, karena darah haid dianggap tidak baik bagi lingkungan adat.
Mereka akan diasingkan selama sebelas hari di posune, sebuah rumah kecil terbuat dari daun rumbia, sebelum diarak keliling kampung untuk menunjukkan bahwa mereka sudah siap menikah.
Keberadaan Suku Naulu dan tradisi-tradisi mereka merupakan bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia yang patut dilestarikan dan dihormati.
Meskipun mungkin terasa aneh atau tidak dimengerti bagi sebagian orang, tradisi-tradisi ini memiliki nilai dan makna yang dalam bagi masyarakat Naulu, dan merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas mereka sebagai suku yang unik di Indonesia.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Atlet Selam Jepara Meninggal di Porprov Jateng, Lomba di Awann Costa Ditunda
- 2Profil Instagram Wasit Persija vs Persik di Super League 2026/2027, Steven Yubel Poli Pimpin Duel, Aidil Azmi Jadi Wasit VARdi JIS
- 3LIVE SCORE PSMS vs PSIS! Ayam Kinantan Unggul 2-0 di Babak Pertama, Tuan Rumah Kena Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME
- 4UPDATE! Kronologi Atlet Selam Jepara Syabilla Rizkia Meninggal Saat Porprov Jateng 2026
- 5Viral Pelari JRF 2026 Terobos Barikade, Apa Itu COT dan COP? Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 6Jadwal BWF Hylo Open 2026 Lengkap hingga Final, Cek Wakil Indonesia dan Link Live Streaming
- 7GMPI Kota Semarang Gelar Rakercab dan Forum Diskusi Kepemudaan, Ajak Gen Z Menjaga Nilai Demokrasi di Era Digital
- 8Prediksi Skor Garudayaksa vs Persib, Cuma Punya 1 Hari Persiapan, Mampukah Persib Taklukkan Garudayaksa?
- 9Perangkat Pertandingan Garudayaksa vs Persib: Wasit Irfan Wahyu Wijanarko Pimpin Laga Panas Malam Ini
- 10CEK! Viral Pelari JRF 2026, Mengenal Flag-Off Time, Gun Time, dan Chip Time



