Jateng

Lupa Baca Niat Puasa Ramadhan, Apakah Puasa Batal dan Tidak Sah? Ini Penjelasan Ustad Buya Yahya

Arixc Ardana | 11 Maret 2024, 01:56 WIB
Lupa Baca Niat Puasa Ramadhan, Apakah Puasa Batal dan Tidak Sah? Ini Penjelasan Ustad Buya Yahya

AKURAT.CO, Lupa Baca Niat Puasa Ramadhan, Apakah Puasa Batal dan Tidak Sah? Ini Penjelasan Ustad Buya Yahya

Saat menjalankan puasa Ramadhan, terdapat syarat dan rukun yang harus dipenuhi dengan benar, termasuk membaca niat puasa Ramadhan menjadi salah satu rukun puasa

Lalu bagaimana jika kita lupa membaca niat puasa pada malam harinya, apakah puasa Ramadhan kita batal dan tidak sah? simak jawaban selengkapnya disini

Baca Juga: Bangun Kesiangan Lupa Sahur, Puasa Ramadhan Batal? Ini Hukum Sahur dalam Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan merupakan salah satu kewajiban ibadah yang dijalankan oleh umat Islam di seluruh dunia.

Syarat puasa meliputi keberagamaan Islam, baligh, berakal sehat, serta memiliki kemampuan untuk menjaga dan melaksanakan puasa dengan sempurna.

Sementara, niat merupakan rukun puasa yang paling utama.

Niat puasa haruslah ada di dalam hati dan merupakan bagian yang wajib, sementara mengucapkan niat secara lisan hukumnya adalah sunnah.

Sementara rukun puasa lainnya yakni menahan diri dan menjauhi perilaku yang dapat membatalkan puasa dari waktu matahari terbit hingga terbenam

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami jika niat menjadi salah satu rukun puasa, yang wajib dilakukan 

Meski demikian, jika kita lupa membaca niat puasa Ramadhan apakah akan langsung membatalkan puasa Ramadhan?

Berikut ini penjelasan Ustad Buya Yahya.

Dalam tayangan YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya memberikan penjelasan terperinci mengenai sahur, niat, dan pandangan ulama, khususnya mazhab Imam Abu Hanifa, terkait puasa.

Simak ringkasan penjelasannya berikut:

1. Niat dan Sahur Menurut Jumhur Ulama

Buya Yahya menyampaikan bahwa menurut pandangan mayoritas ulama (jumhur ulama), seseorang yang berpuasa harus mengucapkan niat di malam hari dan juga disarankan untuk sahur.

Jika seseorang tidak mengucapkan niat dan tidak sahur, puasanya dianggap tidak sah menurut pandangan ini.

2. Pendapat Mazhab Imam Abu Hanifa

Buya Yahya kemudian menjelaskan pendapat mazhab Imam Abu Hanifa.

Menurut mazhab ini, jika seseorang lupa berniat puasa pada malam hari, namun ingin berpuasa di pagi harinya, maka dia diizinkan untuk berniat di pagi hari.

Ini berlaku khusus jika lupa tersebut bukan disengaja.

3. Kasus Orang Awam

Buya Yahya menyoroti bahwa orang awam, yang mungkin kurang familiar dengan tata cara formal, perlu mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi mereka.

Dia menegaskan bahwa jika seseorang benar-benar lupa, bukan karena kesalahan disengaja, maka puasanya tetap sah.

Buya Yahya menekankan pentingnya menghargai keinginan orang awam untuk berpuasa.

Dia menyarankan agar tidak mematahkan semangat mereka dengan mengatakan bahwa puasa tidak sah jika lupa mengucapkan niat.

Meskipun Buya Yahya menyampaikan pendapat Mazhab Imam Abu Hanifa yang memperbolehkan niat di pagi hari, dia menekankan bahwa hal tersebut tidak boleh digunakan sebagai pembenaran main-main.

Pendekatan ini hanya diperbolehkan dalam kasus darurat, di mana seseorang lupa dan belum melakukan sesuatu yang membatalkan puasa.

Baca Juga: Apakah Ciuman Dapat Membatalkan Puasa? Hukum Berciuman bagi Suami Istri Saat Puasa Ramadhan, Simak Lengkap

Buya Yahya menekankan bahwa pendekatan Mazhab Abu Hanifa dalam hal ini hanya boleh digunakan pada kasus darurat.

Dia mengingatkan bahwa tidak boleh disalahgunakan dan hanya diperbolehkan jika seseorang benar-benar lupa dan belum melakukan tindakan yang membatalkan puasa.

Dengan penjelasan ini, Buya Yahya memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai niat, sahur, dan kesesuaian dengan mazhab Imam Abu Hanifa dalam konteks puasa.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.