Jateng

Lebih dari Sekedar Kata Opo dan Sampean, Inilah Fakta Unik nan Menakjubkan Bahasa Jawa yang Bikin Kamu Berdecak Kagum dan Bangga

Theo Adi Pratama | 17 Mei 2024, 11:04 WIB
Lebih dari Sekedar Kata Opo dan Sampean, Inilah Fakta Unik nan Menakjubkan Bahasa Jawa yang Bikin Kamu Berdecak Kagum dan Bangga

JATENG.AKURAT.CO, Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa daerah di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dan kaya.

Meskipun sering digunakan oleh jutaan orang, ada banyak fakta unik dan menarik tentang bahasa ini yang mungkin belum diketahui banyak orang.

Berikut beberapa fakta unik tentang bahasa Jawa:

Baca Juga: Bosan dengan UKT Mahal? Kuliah di Thailand Aja, Biaya Hidup Murah dan Kualitas Pendidikan Terjamin! Ini Fakta Unik Mmeilih Kuliah di Thailand

Penutur Multilingual

Bahasa Jawa kemungkinan adalah bahasa dengan jumlah penutur terbanyak yang tidak mengenal penutur monolingual.

Hampir semua penuturnya juga menguasai bahasa Indonesia atau bahasa lain.

Bukan Bahasa Resmi

Meskipun jumlah penuturnya besar, bahasa Jawa bukanlah bahasa resmi di manapun juga, bahkan di Daerah Istimewa Yogyakarta sekalipun.

Sejarah Tertulis yang Panjang

Bahasa Jawa sudah tertulis semenjak tahun 804 Masehi.

Dengan ini, bahasa Jawa sudah lebih awal ditulis daripada beberapa bahasa Eropa.

Naskah tertua yang ditemukan adalah Prasasti Sukabumi.

Kesinambungan Tulisan

Bahasa Jawa tertulis secara berkesinambungan mulai abad ke-9 sampai sekarang.

Ini menunjukkan kesinambungan tradisi literasi yang kuat di antara masyarakat Jawa.

Baca Juga: 15 Tokoh Kabupaten Demak Masuk Polling Calon Bupati, Pakar Politik UIN Walisongo Beri Komentar

Tahap Sejarah Bahasa Jawa

Bahasa Jawa memiliki beberapa tahap sejarah yang penting:

  • Bahasa Jawa Kuna (800 - 1300)
  • Bahasa Jawa Pertengahan (1200 - 1700)
  • Bahasa Jawa Baru (1600 - 1900)
  • Bahasa Jawa Modern (1850 - sekarang)

Manuskrip dan Prasasti

Di perpustakaan di seluruh dunia disimpan ribuan naskah manuskrip dan prasasti dalam bahasa Jawa, menunjukkan betapa kayanya tradisi literatur Jawa.

Aksara Beragam

Bahasa Jawa pernah ditulis dalam aksara turunan Brahmi, abjad Arab, dan huruf Latin.

Keanekaragaman aksara ini menunjukkan adaptabilitas bahasa Jawa dalam berbagai konteks budaya dan agama.

Bahasa Liturgis

Bahasa Jawa Kuna atau Kawi masih dipakai sebagai bahasa liturgis di Bali dan Lombok, menunjukkan pengaruh budaya Jawa yang luas.

Cerita-cerita Panji

Cerita-cerita Panji yang berasal dari Jawa kemungkinan besar sebagian besar ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan. Cerita ini dikenal luas di seluruh Asia Tenggara.

Ragam Bahasa

Bahasa Jawa memiliki ragam yang berbeda-beda: bahasa Jawa ngoko dan krama, lalu bentuk krama inggil dan andhap sebagai honorifik.

Selain itu, ada bahasa krama madya yang merupakan bentuk campuran antara ngoko dan krama. Morfologi dan prosodi krama juga berbeda dari ngoko.

Baca Juga: Rahasia Dibalik Pesona Orang dengan Weton Jumat Wage Menurut Primbon: Magnet Kebaikan dan Kedamaian

Ungkapan Irrealis

Ada sebuah cara untuk mengungkapkan irrealis dalam bahasa Jawa dengan membubuhkan sufiks -a pada sebuah kata kerja, adjektiva, atau adverbia.

Nominalisasi Predikat

Bahasa Jawa memiliki cara keren untuk menominalisasi predikat atau kalimat dengan menggunakan partikel olèhé (lé) dalam ragam ngoko atau anggènipun dalam ragam krama.

Pengaruh Sanskerta

Dalam bahasa Jawa Kuna, hampir separuh kosakatanya berasal dari bahasa Sanskerta.

Pengaruh ini mungkin juga yang membuat bahasa Jawa memiliki bunyi retrofleks.

Bahasa Jawa di Dunia Baru

Bahasa Jawa adalah satu-satunya bahasa Indonesia yang dipertuturkan oleh sejumlah besar orang di Dunia Baru.

Bahasa ini dipertuturkan oleh sekitar 70.000 jiwa penutur di Suriname.

Bahasa Jawa bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin dari sejarah panjang, budaya kaya, dan keanekaragaman masyarakat Jawa.

Fakta-fakta unik ini menambah kekaguman kita terhadap salah satu bahasa tertua di Nusantara.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.