Jateng

Misteri dan Mitos yang Melingkupi Burung Jalak Lawu: Pengawal Moksa dan Kisah Menyeramkan

Theo Adi Pratama | 4 Januari 2024, 09:00 WIB
Misteri dan Mitos yang Melingkupi Burung Jalak Lawu: Pengawal Moksa dan Kisah Menyeramkan

AKURAT.CO Misteri, Gunung Lawu, dengan keindahan alamnya yang menakjubkan, juga menjadi tempat berkembangnya mitos-mitos yang melekat dalam kehidupan masyarakat setempat.

Salah satu mitos yang terkenal di kalangan pendaki Gunung Lawu adalah keberadaan Burung Jalak Lawu, yang dianggap sebagai perwujudan pengawal Raja Brawijaya V yang moksa di puncak gunung tersebut.

Baca Juga: Misteri dan Kisah Kelam Pulau Nusa Barong: Objek Wisata Berbalut Mitos di Jawa Timur

Mitos Burung Jalak Lawu

Menurut mitos yang beredar, Burung Jalak Lawu dianggap memiliki makna spiritual yang mendalam.

Dikatakan bahwa burung ini adalah perwujudan roh atau pengawal yang moksa di puncak Gunung Lawu, terkait dengan keberadaan Raja Brawijaya V.

Berbeda dengan jalak pada umumnya, Burung Jalak Lawu terkenal sangat jinak terhadap para pendaki yang melintasinya.

Saat seorang pendaki akan naik atau turun dari Gunung Lawu, burung ini seperti memberikan petunjuk arah yang benar.

Terkadang, burung ini bahkan mematuki kepala pendaki yang beristirahat terlalu lama, mungkin sebagai upaya agar pendaki segera melanjutkan perjalanan menuju tujuannya.

Mitos Menyeramkan Tentang Penangkapan Burung Jalak Lawu

Dalam mitos Burung Jalak Lawu, terdapat kisah menyeramkan yang bikin bulu kuduk merinding.

Konon, ada orang dari suatu daerah yang berhasil menangkap Burung Jalak Lawu untuk dijadikan burung peliharaan.

Baca Juga: Misteri dan Cerita Mistis yang Menyelimuti Kawasan Taman Nasional Baluran: Keangkeran di Ujung Timur Jawa

Awalnya, tampaknya tidak ada yang aneh terjadi pada orang yang menangkap burung ini.

Namun, ketika mereka sampai di tengah perjalanan, secara misterius mobil yang mereka gunakan tiba-tiba patah.

Kejadian ini menciptakan aura misteri yang menggigit ketika Burung Jalak Lawu yang baru ditangkap tersebut berkata, "Ulihna aku" (Pulangkan saya).

Ketakutan melanda orang yang menangkap burung tersebut, terutama ketika burung itu meminta untuk dibawa pulang dengan cara digendong dan berjalan kaki.

Mereka tidak ingin mengalami hal yang lebih buruk, sehingga dengan penuh kehati-hatian, mereka menuruti permintaan burung itu.

Pulang dengan Cara yang Tak Lazim

Burung Jalak Lawu menghendaki agar dibawa pulang dengan cara yang tak lazim, mungkin sebagai bentuk penghormatan dan kesadaran akan keberadaannya yang memiliki makna spiritual yang dalam.

Kisah ini memberikan nuansa mistis dan mendorong kepercayaan akan hubungan antara manusia dan alam, terutama dalam konteks Gunung Lawu yang sering dianggap sebagai tempat suci.

Baca Juga: Misteri yang Menyelimuti Pabrik Seranite Banyuwangi: Sejarah Angker dan Nuansa Mistis yang Membuat Merinding

Dengan mitos-mitos seperti Burung Jalak Lawu, Gunung Lawu tidak hanya menjadi destinasi wisata alam yang memukau, tetapi juga tempat yang sarat dengan kearifan lokal dan keyakinan spiritual yang mendalam.

Masyarakat setempat memelihara dan merawat mitos ini sebagai bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya mereka, menghadirkan kisah-kisah yang menciptakan daya tarik unik di kaki Gunung Lawu.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.