Jateng

Tantangan Besar Ganjel Rel Masjuki Pertahankan Cita Rasa Kuliner Tradisional di Era Gen Z

Arixc Ardana | 21 April 2025, 16:15 WIB
Tantangan Besar Ganjel Rel Masjuki Pertahankan Cita Rasa Kuliner Tradisional di Era Gen Z

 

JATENG.AKURAT.CO, Mempertahankan cita rasa kuliner tradisional memang penuh tantangan. Pasalnya, setiap generasi memiliki lidah yang tak sama sehingga menyebabkan selera menajdi berbeda-beda.

 

Tantangan tersebut diamini oleh Aunil Masjuki yang merupakan Owner Roti Ganjel Rel Mas Juki Semarang yang merupakan member Rumah Kreatif BUMN di bawah binaan Bank Rakyat Indonesia (BRI).

 

Dirinya mencoba mempertahankan Ganjel Rel yang merupakan kue khas Kota Semarang sejak zaman kolonial melalui acara-acara tradisional seperti Dugderan menjelang Ramadhan pada Februari 2025 lalu.

 

“Saya pembuat kue Ganjel Rel dugderan yang biasanya digelar menjelang Ramadhan termasuk Ramadhan tahun ini,” ujar wanita paruh baya yang akrab disapa Aunil ini, Senin (21/4/2025).

 

Aunil sudah mengerjakan pemesanan kue Ganjel Rel dalam jumlah besar untuk Dugderan sejak tahun 2009 silam. Dia mendapat pesanan dari Masjid Agung Semarang yang diberi mandat oleh Walikota Semarang.

 

“Saya sudah mengerjakan ini sejak tahun 2009 saat pertama kali saya didawuhi oleh pengurus Masjid Agung Semarang yang mana masjid tersebut diberi mandat oleh Wali Kota Semarang untuk menyediakan kuliner khas Semarang. Nah pilihannya ganjel rel dengan alasan lebih awet,” tuturnya.

 

Aunil menuturkan bahwa dirinya terbiasa mengerjakan ribuan paket untuk sekali acara Dugderan.

 

“Pada 2009 saya bikin 2500 paket kemudian yang terbanyak tahun 2019 sekitar 11.000 paket. Tahun 2020, 2021, 2022 saya tidak membuat kue untuk dugderan karena kondisi covid-19. Kemudian saya mulai lagi tahun 2023 dengan membuat sekitar 4000 paket. Tahun 2024 saya buat 7000 paket,” bebernya.

 

Namun di tahun 2025 ini karena ada efisiensi anggaran pemerintah. Akhirnya dirinya hanya membuat 5000 paket saja.

 

Kolaborasi Sesama UMKM

 

Untuk program dugderan, Aunil menjelaskan bahwa dirinya melibatkan banyak UMKM di sekitar Masjid Agung Semarang. Dia berkolaborasi dengan banyak UMKM sejak tahun 2023.

 

“Tapi dulu, sampai tahun 2019 itu saya membuat sendiri dan hanya dibantu beberapa orang. Biasanya saya buat H-5 ramadhan dan sudah harus jadi pada H-2 Ramadhan di mana dugderan dimulai,” ungkapnya.

 

“Sejak 2023 saya sudah bekerjasama dengan banyak UMKM yang bisa membuat roti, tapi resep dan Teknik memasaknya dari saya. Sedangkan para UMKM hanya menambahkan telur dan air saja. Sementara gula, rempah, dan bahan-bahan yang lain dari saya,” tuturnya.

 

Kolaborasi ini dilakukan karena Aunil menginginkan resep Ganjel Rel ini kedepannya tetap Lestari dan tidak berubah.

 

Berkat kolaborasi tersebut, Pada tahun 2025 ini, Aunil dan tim berhasil membuat replika Masjid Agung Semarang dari 250 potong kue Ganjel Rel. Timnya bekerja sama dengan Remaja Masjid Agung Semarang.

 

Sempat Kacau

 

Meski begitu, Persiapan penyediaan kue Ganjel Rel tahun 2025 ini sejujurnya agak kacau karena beberapa aturan yang mengganjal, salah satunya efisiensi anggaran pemerintah.

 

“Kita punya walikota baru dengan aturan baru yang harus menyesuaikan dengan program efisiensi anggaran jadi perintahnya tidak segera turun. Saya baru membuat H-3 Ramadhan. Padahal biasanya H-7 atau paling telat H-5 harus sudah mulai proses pembuatan,” jelasnya.

 

Untungnya dirinya bekerjasama dengan banyak UMKM sehingga saya terbantu untuk menyelesaikan tugas ini.

 

Pemasaran dan Varian Produk

 

Selain pemesanan reguler dan dugderan yang sudah menjadi rutinitas. Aunil juga mulai memasarkan produknya ke luar negeri melalui koleganya.

 

“Selain program dugderan, saya banyak pesanan dari luar negeri. Salah satunya ke Belanda karena ada saudara di sana dan sudah beberapa kali sudah mengirim ke sana,” ujarnya.

 

Aunil menjelaskan ada beberapa varian kue Ganjel Rel. Yang menjadi jualan sehari-hari Ganjel Rel Mas Juki antara lain varian krispi dan pie.

 

“Dua varian itu saya buat agar cita rasa Ganjel Rel bisa kekinian atau bisa sesuai dengan selera Gen Z,” ujarnya.

 

Selain itu, ada juga varian kue sus dan fla yang sesuai dengan penikmat suasana Kota Lama Semarang dan penikmat dari luar negeri.

 

Untuk pemasaran jelas saat ini Aunil sangat mengandalkan digital, karena memang sudah zamannya. Bahkan angka penjualan Ganjel Rel Mas Juki paling banyak itu dari online.

 

“Bahkan produk saya ini sudah masuk discover google. Jika punya akun google bisnis, searching kue Ganjel rel, maka akan keluar brand Ganjel Rel Mas Juki dari Semarang,” tuturnya.

 

Aunil sendiri adalah generasi ketiga pelestari Kue Ganjel Rel. Dulu Mbah Nami adalah pembuat kue pada zaman kolonial, kemudian keahlian ini turun ke anaknya.

 

“Nah anaknya Mbah saya itu bukan orang tua saya, tapi Bulek (Tante) saya. Nah saya itu waktu kecil seneng ke rumah Bulek saya untuk membantu membuat kue atau roti,” ungkapnya.

 

Dulu Bulek Aunil punya tempat berjualan di Pasar Johar yang memang pada saat itu terkenal sebagai sentra kuliner tradisional.

 

“Saya itu sering banget membantu membuat kue gethuk gedang, kue pukis bulat, pudding roti, dan jajanan kuno lainnya. Salah satunya Ganjel Rel ini,” tandasnya.

 

Aunil melanjutkan, dengan kehalian yang diajarkan oleh Buleknya itu, dia mulai membuat dapur sendiri dan menjual sendiri di sekitar Kauman Semarang sampai kemudian pihak Masjid Agung Semarang memintanya membuatkan kue Ganjel Rel dengan jumlah banyak.

 

Tidak hanya itu, di tahun yang sama, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Semarang meminta Aunil untuk membuat pelatihan membuat Kue Ganjel Rel.

 

“Akhirnya sekarang kami punya sentra pelatihan di 16 kecamatan Kota Semarang,” ujarnya.

 

Sejak sentra pelatihan dibuka, mulai tahun 2009 hingga 2018 di Semarang banyak sekali produsen Ganjel Rel dengan banyak varian rasa dan tampilan yang lebih modern.

 

“Saya sendiri tidak pernah takut tersaingi karena memang saya ingin cita rasa kue ini harus dilestarikan. Bahkan saya membantu mereka dengan resep setengah jadi agar mereka mudah dalam memproduksi sampai penjualan,” jelasnya.

 

“Jadi saat ini banyak sekali produsen Ganjel Rel yang bahan mentahnya dari kami,” bebernya.

 

Selain menjual kue jadi, Aunil juga menjual bahan pembuatan Ganjel Rel yang bisa untuk dua Loyang yang harganya 17 ribu rupiah per paket.

 

Apa yang dilakukan Aunil adalah untuk menjawab tantangan di era modern yang mana dirinya merasa bertanggungjawab untuk mengenalkan karya kuliner ke Gen Z, Syukur-syukur Gen Z mau membuat kue ini.

 

“Karena tantangannya lumayan berat mas, pesaing kami adalah kue-kue modern yang sangat digandrungi Gen Z. jadi kami harus berinovasi, bukan hanya untuk menarik mereka mengkonsumsi produk kami, tapi juga mengedukasi kuliner khas Kota Semarang yang memikat ini,” tuturnya.

 

Sementara itu, Endang Sulistyaningsih yang merupakan koordinator Rumah BUMN Semarang yang merupakan tangan Panjang BRI dalam membina UMKM mengatakan, Rumah BUMN bukan hanya sekedar sebagai tempat untuk memperkenalkan produk.

 

Di sini para member bisa saling bercerita, curhat, atau melampiaskan isi hatinya dengan kegiatan yang positif sekaligus produktif.

 

“Rata-rata orang yang mau masuk ke sini itu karena ada masalah ekonomi keluarga. Akhirnya di sini kita harus memastikan produk UMKM yang dibawa member harus terjual,” tuturnya.

 

Tia sendiri memfasilitasi para member dalam pelatihan, bazar, dan mengakomodir pengunjung.

 

“Nah di rumah BUMN sendiri menyediakan pelatihan marketing gratis dan member bisa mendisplay produknya ke sini sehingga pengunjung bisa membeli. Selain itu rumah BUMN juga membuatkan event, bazar, dan lain-lain,” ujar Tia menjabarkan tanggungjawab utamanya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.