Jateng

Menakjubkan! Prediksi Ilmiah Peneliti UNDIP Terbukti, Air Laut Mendadak Dingin Saat Festival ALaDin 2026

Arixc Ardana | 17 September 2026, 12:06 WIB
Menakjubkan! Prediksi Ilmiah Peneliti UNDIP Terbukti, Air Laut Mendadak Dingin Saat Festival ALaDin 2026
Kemunculan ALaDin bahkan terjadi ketika Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, S.H., M.H. tengah memberikan sambutan pembukaan festival.

JATENG.AKURAT.CO, Prediksi ilmiah peneliti Universitas Diponegoro (UNDIP) mengenai kemunculan fenomena Air Laut Dingin (ALaDin) akhirnya terbukti.

Fenomena alam langka tersebut muncul di perairan Alor Kecil, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), tepat saat pembukaan Festival Air Laut Dingin (ALaDin) 2026, Sabtu (12/9/2026).

Kemunculan ALaDin bahkan terjadi ketika Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, S.H., M.H. tengah memberikan sambutan pembukaan festival.

Momen tersebut menjadi peristiwa menarik karena fenomena yang sebelumnya diprediksi melalui kajian ilmiah UNDIP benar-benar terjadi di tengah kegiatan yang memang mengangkat Air Laut Dingin sebagai daya tarik utama.

Festival ALaDin 2026 berlangsung di Desa Alor Kecil, Kecamatan Alor Barat Laut. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Alor, UNDIP, dan Universitas Tribuana (UNTRIB) melalui Program Hiliriset Sinergi Strategis dengan pendanaan LPDP.

Pembukaan festival turut dihadiri perwakilan pimpinan UNDIP dan UNTRIB, pemerintah daerah, pelaku UMKM, masyarakat, serta tetua adat Alor.

Air Laut Bisa Turun hingga 15 Derajat Celsius

Air Laut Dingin di Alor Kecil bukan sekadar perubahan suhu air laut biasa.

Dalam kajian ilmiah, fenomena tersebut dikenal sebagai Extreme Upwelling Event (EUE), yakni naiknya massa air laut dari lapisan dalam menuju permukaan dengan suhu yang jauh lebih rendah.

Fenomena ini berlangsung relatif singkat, biasanya sekitar satu hingga dua jam. Namun, perubahan suhu yang terjadi dapat berlangsung sangat cepat.

Saat ALaDin muncul, suhu air laut dapat turun hingga sekitar 15 derajat Celsius dalam waktu kurang lebih satu jam.

Kondisi ekstrem tersebut juga dapat memberikan dampak terhadap biota laut. Ikan dapat mengalami kondisi seperti pingsan bahkan mati. Fenomena ini juga dikaitkan dengan kemunculan lumba-lumba ke permukaan.

Keunikan tersebut membuat ALaDin menjadi fenomena alam yang memiliki nilai ilmiah sekaligus potensi wisata yang tidak biasa.

Sempat Diragukan, Prediksi UNDIP Akhirnya Terbukti

Sebelum ALaDin muncul pada pembukaan festival, prediksi tim peneliti UNDIP ternyata sempat membuat sebagian pihak belum sepenuhnya yakin.

Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo mengakui bahwa dirinya sebelumnya masih memiliki keraguan mengenai prediksi kemunculan fenomena tersebut.

Tim peneliti UNDIP yang melakukan kajian ALaDin dipimpin Prof. Dr. Sc. Anindya Wirasatriya, S.T., M.Si., M.Sc., dari Program Studi Oseanografi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Keraguan tersebut berubah menjadi kegembiraan ketika fenomena Air Laut Dingin benar-benar muncul sesuai prediksi.

Kemunculan ALaDin pada saat pembukaan festival menjadi momentum penting. Sebab, masyarakat dan pemerintah daerah dapat menyaksikan secara langsung bagaimana hasil penelitian perguruan tinggi berkaitan dengan fenomena alam yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Alor.

Berpeluang Jadi Wisata Berbasis Sains

Pemerintah Kabupaten Alor melihat kemunculan ALaDin tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan potensi wisata berbasis sains.

Fenomena Air Laut Dingin diharapkan tidak hanya menjadi objek penelitian bagi kalangan akademisi, tetapi juga dapat memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.

Pengembangan tersebut tentu membutuhkan pengelolaan yang berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan, budaya, serta kearifan lokal masyarakat Alor.

Keterlibatan perguruan tinggi, pemerintah daerah, masyarakat adat, pelaku UMKM, dan sektor pariwisata menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.

Masyarakat Adat Apresiasi Peran UNDIP

Kontribusi UNDIP dalam penelitian sekaligus promosi Festival ALaDin 2026 juga mendapat apresiasi dari masyarakat adat Alor.

Mewakili masyarakat adat, tetua adat Alor menyampaikan terima kasih kepada UNDIP atas perhatian dan kontribusinya dalam meneliti fenomena Air Laut Dingin.

Kehadiran UNDIP dinilai membuka perspektif baru dalam melihat kekayaan alam Alor. Penelitian yang dilakukan juga membantu memperkenalkan fenomena ALaDin kepada masyarakat yang lebih luas.

Bagi masyarakat setempat, ALaDin bukan hanya fenomena alam yang menarik dari sisi ilmiah.

Fenomena tersebut merupakan bagian dari kekayaan dan identitas wilayah Alor yang berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan, selama pengelolaannya tetap menghormati nilai budaya dan kearifan lokal.

UNDIP Tegaskan Riset Harus Berdampak

Mewakili Rektor UNDIP, Wakil Rektor Sumber Daya Manusia, Teknologi Informasi, Hukum dan Organisasi UNDIP, Prof. Dr. Adian Fatchur Rochim, S.T., M.T., menegaskan komitmen UNDIP sebagai universitas riset untuk terus menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“UNDIP sebagai universitas riset yang unggul terus berupaya menyumbangkan dan mengembangkan inovasi yang bermanfaat dan berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, penelitian di perguruan tinggi tidak seharusnya berhenti pada pencapaian akademik. Hasil riset juga perlu terus didorong agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pembangunan daerah.

Festival ALaDin 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana penelitian perguruan tinggi dapat dipertemukan dengan potensi lokal.

Kolaborasi tersebut membuka peluang agar fenomena alam yang sebelumnya menjadi objek kajian ilmiah dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

“Hal tersebut sejalan dengan tagline UNDIP yakni UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat,” tegasnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.