Jateng

Rona Ramadhan: 5 Kudapan Tradisional dari Jawa Tengah yang Jadi Favorit untuk Berbuka Puasa

Theo Adi Pratama | 18 Maret 2025, 23:05 WIB
Rona Ramadhan: 5 Kudapan Tradisional dari Jawa Tengah yang Jadi Favorit untuk Berbuka Puasa

JATENG.AKURAT.CO, Simak Apa Saja 5 Kudapan Tradisional dari Jawa Tengah yang Jadi Favorit untuk Berbuka Puasa. selengkapnya di Artikel Ini.

Saat bulan Ramadhan seperti sekarang, momen berbuka puasa menjadi waktu yang paling dinanti. 

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, menikmati takjil yang manis dan gurih tentu menjadi kenikmatan tersendiri.

Baca Juga: Rekomendasi 10 Tempat Makan Chinese Food Terbaik di Malang: Nikmati Cita Rasa Kuliner Autentik Tiongkok!

Di daerah Jawa Tengah, berbagai jajanan tradisional hadir sebagai pilihan sempurna untuk mengawali buka puasa dengan cita rasa yang khas dan menggugah selera. 

Jika Anda mencari inspirasi menu takjil yang lezat dan unik, berikut lima jajanan khas Jawa Tengah yang wajib dicoba:

Berikut Ini 5 Kudapan Tradisional dari Jawa Tengah yang Jadi Favorit untuk Berbuka Puasa. 

Baca Juga: Rekomendasi 7 Kuliner Wajib Coba di Cilegon: Surganya Citarasa di Kota Baja!

1. Combro Banjarnegara 

Tak hanya di Jawa Barat, Combro juga memiliki versi khas Banjarnegara yang tak kalah menggugah selera.

Berbeda dari Combro Sunda yang berisi oncom, Combro Banjarnegara menggunakan isian tempe pedas yang memberikan sensasi gurih dan sedikit pedas di setiap gigitannya.

Terbuat dari parutan singkong dan kelapa, camilan ini sangat cocok dinikmati bersama teh atau kopi saat berbuka puasa.

2. Dawet Ayu

Minuman khas Banjarnegara ini sudah menjadi ikon kuliner Jawa Tengah yang banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional.

Dawet Ayu terbuat dari campuran tepung beras dan tepung sagu, disajikan dengan santan gurih, larutan gula merah, serta tambahan nangka atau durian untuk cita rasa yang lebih kaya.

Kesegarannya menjadikan Dawet Ayu sebagai pilihan sempurna untuk melepas dahaga setelah seharian berpuasa.

jajanan tradisional khas Jawa Tengah yang cocok untuk menu takjil berbuka puasa. 

Selain lezat, jajanan ini juga mencerminkan kekayaan kuliner Nusantara yang patut dilestarikan.

Baca Juga: Nikmatnya Kuliner Kota Atlas! Segarnya Es Puter Sultan: Promo Buy 1 Get 1 Free Khusus Ulang Tahun Maret! 

3. Clorot

Clorot adalah kudapan khas Purworejo yang terkenal dengan teksturnya yang kenyal dan cita rasa manis gurih. 

Dibuat dari tepung beras dan gula merah, kue ini dibungkus dengan janur kelapa muda yang digulung berbentuk kerucut.

Menurut sejarah, Clorot sudah ada sejak abad ke-19 dan tetap menjadi favorit hingga sekarang. 

Selain kelezatannya, tampilan unik Clorot juga menjadikannya jajanan yang menarik untuk disajikan saat berbuka puasa.

Baca Juga: Es Krim Legendaris 3 Generasi! Kuliner yang Jualan dari Garasi, Laris 100 Porsi per Hari, dan Halal!

4. Kue Lompong

Kue Lompong merupakan camilan tradisional dari Purworejo yang memiliki warna hitam khas dari merang (abu batang padi). 

Kue ini bertekstur kenyal dengan isian kacang tanah yang telah disangrai dan dibumbui, menghasilkan perpaduan rasa gurih dan manis yang lezat.

Kini, variasi isian Kue Lompong semakin beragam, mulai dari kacang hijau, keju, hingga cokelat. Tentu saja hal ini menjadikan kue lompong sebagai pilihan takjil yang semakin menarik.

5. Gemblong Cothot

Berasal dari Kabupaten Semarang, Gemblong Cothot merupakan jajanan berbahan dasar singkong yang diisi dengan gula pasir cair. 

Teksturnya yang renyah di luar dan lumer di dalam membuatnya semakin nikmat, terutama jika disantap dalam keadaan hangat.

Kudapan ini banyak dijumpai di kawasan Bandungan dan menjadi favorit masyarakat sekitar sejak zaman dahulu. 

Makanan ini juga cocok dijadikan santapan berbuka puasa sebelum sajian utama.

Itulah Ulasan Mengenai 5 Kudapan Tradisional dari Jawa Tengah yang Jadi Favorit untuk Berbuka Puasa. *** 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.