Jateng

Yuks Jelajahi Napak Tilas Sejarah di Jalur Kereta Api Stasiun Tawang-Kedungjati: Wisata Heritage yang Menawan

Arixc Ardana | 17 November 2024, 14:38 WIB
Yuks Jelajahi Napak Tilas Sejarah di Jalur Kereta Api Stasiun Tawang-Kedungjati: Wisata Heritage yang Menawan

AKURAT.CO, Kota Semarang tidak hanya kaya akan kuliner, tetapi juga menyimpan sejarah panjang perkeretaapian yang menarik untuk ditelusuri.

Salah satu rute kereta api bersejarah yang patut Anda coba adalah jalur Tawang-Kedungjati.

Jalur ini bukan hanya sekadar sarana transportasi, tetapi juga menjadi saksi bisu perkembangan kota Semarang dan sekitarnya.

Jejak Sejarah yang Memukau

Jalur kereta api Tawang-Kedungjati merupakan jalur kereta api tertua di Indonesia.

Diresmikan pada tahun 1867, jalur ini menghubungkan Semarang dengan Grobogan dan menjadi saksi bisu perkembangan ekonomi dan sosial di Jawa Tengah.

Dengan menelusuri jalur ini, kita seolah diajak bertualang waktu dan merasakan atmosfer zaman dahulu.

Jalur kereta api Stasiun Tawang – Stasiun Kedungjati nantinya dapat menjadi salah satu rute wisata heritage antar kedua daerah.

Lalu apa yang membuat stasiun Kedungjati menjadi rute wisata heritage?

Berikut ini sejarah stasiun Kedungjati di Kabupaten Grobogan.

Dikutip dari Journal of Indonesian History Universitas Negeri Semarang (Unnes), berjudul 'Stasiun Kereta Api Kedungjati dan Perekonomian Desa Kedungjati Tahun 1966- 1989', Stasiun Kedungjati dengan kode (KED) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kedungjati, Grobogan.

Wilayah Kedungjati merupakan pusat penghasil hutan dengan komoditi utamanya adalah kayu jati.

Pada zaman kolonial, Belanda memutuskan untuk membangun stasiun kereta api di Desa Kedungjati Kecamatan Kedungjati, yang menghubungkan antara Semarang dengan Surakarta melalui jalur kereta api untuk mempermudah mengangkut dan membawa kayu jati.

Stasiun yang terletak pada ketinggian +36 mdpl ini berada di Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang.

Stasiun Kedungjati diresmikan pada 21 Mei 1873.

Stasiun kereta api Kedungjati ini dibangun enam tahun setelah jalur kereta api Semarang-Tanggung yang merupakan jalur pertama yang beroprasi di pulau Jawa, yang beroperasi pada tahun 1867.

Jalur tersebut diteruskan menjadi jalur Semarang-Yogyakarta, melalui Solo agar lebih menguntungkan bagi kepentingan militer Belanda pada masa itu, serta pengangkutan hasil hutan.

Pada masa itu, Kedungjati memiliki hutan yang sangat luas dan merupakan penghasil kayu jati terbesar di Jawa Tengah, sehingga pemerintah Belanda memerintahkan untuk dibangunnya stasiun kereta api Kedungjati di desa Kedungjati, untuk mengangkut hasil hutan yang berupa kayu jati dari desa Kedungjati menuju Yogyakarta melalui Solo

Menariknya, arsitektur stasiun Kedungjati ini serupa dengan Stasiun Willem I di Ambarawa, bahkan dulu beroperasi jalur kereta api dari Kedungjati ke Ambarawa, yang sudah tidak beroperasi pada tahun 1978.

Pada tahun 1907, Stasiun Kedungjati awalnya dibangun dari kayu, diubah ke bata berplester dengan peron berkonstruksi baja dengan atap dari seng setinggi 14,65 cm.

Pada awalnya jalur-jalur yang berada di stasiun kereta api Kedungjati memiliki tujuan masing-masing.

Di jalur utama dan kedua, difungsikan untuk kereta api yang menuju ke Semarang atau Jakarta.

Jalur ketiga dan keempat difungsikan untuk kereta api yang menuju ke Solo atau Jawa Timur, jalur kelima difungsikan untuk jalur kereta api Tuntang-Kedungjati, sedangkan jalur keenam, difungsikan untuk kereta lokal Kedungjati-Ambarawa.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.