Jateng

Mencicipi Manisnya Serabi Notosuman, Lebih dari Sekedar Warisan Tradisi Kuliner Khas Solo

Arixc Ardana | 21 Juli 2024, 09:53 WIB
Mencicipi Manisnya Serabi Notosuman, Lebih dari Sekedar Warisan Tradisi Kuliner Khas Solo

AKURAT.CO, Berkunjung ke Kota Solo tak lengkap rasanya tanpa mencicipi Serabi Notosuman.

Jajanan tradisional ini telah melegenda sejak tahun 1923 dan menjadi salah satu ikon kuliner khas Solo.

Lebih dari sekadar jajanan biasa, Serabi Notosuman menyimpan nilai budaya dan tradisi yang lekat dengan masyarakat Jawa.

Baca Juga: Paninggaran Travel Budget! Rekomendasi 4 Wisata Hits, Destinasi Wisata Alam Murah dan Menakjubkan di Pekalongan yang Diburu Banyak Wisatawan

Serabi Notosuman berawal dari usaha sederhana pasangan Hoo Gek Hok dan Tan Giok Lan.

Awalnya, mereka membuka gerai kue apem di Jalan Veteran, Solo.

Namun, tanpa disengaja, mereka mendapat permintaan untuk membuat apem berbentuk pipih yang kemudian dikenal sebagai serabi.

Seiring waktu, serabi justru lebih digemari dan menjadi primadona di lidah masyarakat Solo.

Bagi masyarakat Jawa, kue apem memiliki makna yang mendalam.

Kata "apem" diyakini berasal dari bahasa Arab "afuum" yang berarti pengampunan.

Hal ini mencerminkan filosofi di balik kue ini, yaitu doa untuk memperoleh pengampunan dan pengayoman.

Tradisi penggunaan apem dalam berbagai ritual adat, seperti pernikahan, sunatan, dan ruwahan, semakin mempertegas nilai budaya dan spiritual yang terkandung dalam kue ini.

Menikmati Kelezatan Serabi Notosuman

Serabi Notosuman memiliki ciri khas yang membedakannya dari serabi lainnya.

Adonan serabi terbuat dari tepung beras cendani pilihan dari Cianjur yang ditumbuk halus, menghasilkan tekstur lembut dan rasa gurih yang khas.

Berbeda dengan serabi pada umumnya, Serabi Notosuman tidak menggunakan bahan pengawet, sehingga hanya dapat bertahan selama satu hari.

Hal ini semakin menegaskan komitmen para pembuatnya untuk menjaga kualitas dan keaslian rasa.

Menariknya, proses pembuatan Serabi Notosuman masih menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Adonan serabi dituang ke dalam wajan tanah liat kecil dan dipanggang di atas tungku arang.

Cara memasak ini menghasilkan aroma khas yang menggoda dan tekstur serabi yang matang sempurna dengan warna kuning keemasan.

Serabi Notosuman bukan sekadar jajanan biasa.

Mencicipinya adalah sebuah pengalaman kuliner yang membawa kita kembali ke masa lampau dan merasakan kekayaan budaya Indonesia.

Setiap gigitan Serabi Notosuman menghadirkan perpaduan rasa manis dan gurih yang memanjakan lidah, sekaligus menjadi pengingat akan nilai-nilai tradisi dan budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa.

Tips Menikmati Serabi Notosuman

Sajikan Serabi Notosuman dalam keadaan hangat untuk mendapatkan tekstur yang lembut dan rasa yang optimal.

Santap bersama teh atau kopi untuk menemani momen bersantai Anda.

Cicipi berbagai rasa serabi, seperti polos, coklat, atau keju, untuk menemukan favorit Anda.

Bawa pulang Serabi Notosuman sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan teman, agar mereka juga dapat merasakan kelezatannya.

Jelajahi kekayaan kuliner dan mencicipi Serabi Notosuman.

Rasakan kelezatannya yang tak lekang oleh waktu dan bawa pulang kenangan manis dari Kota Solo.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.