6 Fakta Menarik dari Situs Patiayam, “Gudangnya” Fosil Purbakala di Jawa Tengah

AKURAT.CO JATENG - 6 Fakta Menarik dari Situs Patiayam, “Gudangnya” Fosil Purbakala di Jawa Tengah.
Jejak purbakala di bumi Nusantara masih bisa tengok di sebuah tempat bernama Situs Patiayam. Tempat ini menyimpan banyak temuan purbakala dari zaman pra sejarah.
Situs Patiayam sebenarnya adalah situs tempat dimana ditemukan banyak fosil purbakala yang berada di pegunungan Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Jawa Tengah.
Situs Patiayam disebut sebagai situs purbakala dengan koleksi fosil dan artefak paling lengkap di Jawa Tengah. Di sana menyimpan sekitar 1.500 fosil dan artefak dari zaman manusia purba Homo Erectus.
Nah, apa saja 6 fakta menarik dari Situs Patiayam, yang bisa disebut sebagai Gudangnya” Fosil Purbakala di Jawa Tengah.
- Banyak Ditemukan Fosil Hewan Purba
Setelah lama hilang dari peredaran, pada tahun 2005 nama “Patiayam” kembali muncul ke permukaan setelah sebuah koran di Jawa Tengah mengungkapkan tentang adanya temuan fosil gading gajah di tempat itu yang dibawa ke Bandung.
Fosil gading gajah itu membuat Situs Patiayam menjadi terkenal dan dijadikan cagar budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.
Sejak ramainya berita itu, penelitian di Situs Patiayam kembali dilakukan secara intensif. Dalam berbagai penelitian yang telah dilakukan.
Ternyata di tempat itu banyak ditemukan fosil-fosil binatang purba di antaranya monyet, banteng, sapi, kerbau, gajah purba, gajah asia, kuda air, badak, babi, serigala, harimau, buaya, penyu, kura-kura, ikan hiu, dan dugong.
WisatBaca Juga: Empat Unsur Budaya Meriahkan Semarang Night Carnival, Mbak Ita: Ajang Promosi Wisata
- Awal Mulanya Ditemukan oleh Raden Saleh dan seorang Naturalis dari Jerman
Dilansir dari laman Kemdikbud fosil-fosil di Patiayam pada awalnya ditemukan oleh seorang naturalis asal Jerman bernama Frans Wilhelm Junghuhn dan seorang pelukis sekaligus intelektual Jawa bernama Raden Saleh.
Mereka menemukan fosil-fosil di Pegunungan Patiayam dan Pegunungan Kendeng pada tahun 1857.
Namun penemuan benda purba berupa tulang-tulang berukuran besar itu masih belum dapat dipahami masyarakat pada saat itu. Oleh karena itu, saat itu fosil-fosil di Patiayam disebut dengan “Balung Buto” alias tulangnya Raksasa.
- Fosilnya Sempat Dijual dan Dijadikan Obat
penemuan dan penelitian menghadapi berbagai kendala. Selain karena faktor medan yang sulit, hambatan lain yang dihadapi para peneliti pada waktu itu adalah persaingan dengan penduduk setempat yang menjual fosil-fosil itu kepada pedagang Cina.
Waktu itu para tabib Cina menggunakan bubuk yang terbuat dari fosil tulang untuk dijadikan obat.
Oleh karena itu, salah satu pengumpul fosil asal Belanda, Kopral Anthonie de Winter meminta kepada penguasa setempat untuk melarang penduduk mengambil fosil-fosil itu.
Walau peraturan sudah keluar, para penduduk tetap mengambil fosil-fosil itu secara sembunyi-sembunyi.
WisataBaca Juga: Menikmati Liburan dengan mengunjungi Spot Keren di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru: Panduan Wisata Bagi Pemula
- Ada Temuan Jejak Kehidupan Manusia Purba
Tak hanya temuan fosil hewan, di situs Patiayam juga ditemukan jejak kehidupan manusia purba yang pernah tinggal di kawasan tersebut.
Pada Situs Patiayam juga ditemukan jejak-jejak kebudayaan masa lampau. Penemuan itu pertama kali dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 2007.
Beberapa jejak-jejak budaya yang ditemukan antara lain perkakas batu, kapak genggam, serut, dan kapak perimbas yang terbuat dari gamping kersikan.
Dari situlah dapat disimpulkan bahwa di zaman dulu, manusia purba yang tinggal di Patiayam bermata pencaharian sebagai pemburu binatang.
- Benda Purbakala Diabadikan pada Motif Batik
Kemegahan Situs Patiayam dan segala peninggalannya dinilai layak untuk diabadikan dalam sebuah karya seni.
Pada Oktober 2019, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus mencoba membuat batik tulis bermotif hewan purba agar Patiayam semakin terkenal.
Ada tiga motif batik yang dikembangkan, yaitu motif 9 purba, gajah pinus, dan gading gajah. Bahan yang digunakan dalam pembuatan batik itu adalah kain dari serat kayu alami dan pewarna alami.
- Dijadikan Kawasan Wisata
Tak hanya menjadi tempat penemuan fosil purbakala, wilayah di sekitar Situs Patiayam memiliki panorama yang indah. Di sana terdapat hamparan bukit-bukit dan juga menjadi ladang tanaman palawija seperti jagung,ketela, ubi, dan kacang-kacangan.
Tak hanya itu, akses menuju tempat itu cukup mudah karena dekat dengan akses Jalan Raya Pantura Kudus-Pati.
Untuk itulah masyarakat yang tinggal di sekitar situs itu diberdayakan oleh pemerintah setempat. Maka terbentuklah berbagai kelompok seperti Kelompok Masyarakat Peduli Wisata (Pokmasduta), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Forum Pelestarian Situs Patiayam (FPSP).
Itulah 6 fakta menarik dari Situs Patiayam, yang bisa disebut sebagai Gudangnya” Fosil Purbakala di Jawa Tengah. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 5Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 6Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 7Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?



