Jateng

Heboh Tren Google Maps: Rumah Dulu vs Sekarang, Warganet Banjir Pro dan Kontra

Theo Adi Pratama | 7 April 2026, 12:37 WIB
Heboh Tren Google Maps: Rumah Dulu vs Sekarang, Warganet Banjir Pro dan Kontra

JATENG.AKURAT.CO, Sebuah tren sederhana tiba-tiba menyedot perhatian warganet tanah air.

Alih-alih unggahan dansa atau komedi, yang viral justru adalah tangkapan layar dari Google Maps.

Tren rumah dulu vs sekarang ini mengajak pengguna untuk membandingkan kondisi rumah atau lingkungan mereka saat ini dengan tampilan tahun-tahun lalu melalui fitur Street View.

Unggahan demi unggahan bermunculan di TikTok dan media sosial lainnya, menunjukkan perubahan drastis rumah dari tahun ke tahun.

Ada yang terharu karena rindu suasana lama, ada pula yang kaget karena rumah yang dulu rimbun kini berubah total.

Namun, di balik euforia nostalgia, tren ini juga memicu perdebatan sengit. Beberapa pihak menyoroti aspek privasi dan keamanan yang mungkin terancam.

Akibatnya, fenomena ini pun menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan.

Lantas, bagaimana sebenarnya tren ini bermula, apa saja kelebihan dan kekurangannya, serta bagaimana cara aman untuk ikut serta? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Awal Mula Tren: Fitur "Time Travel" Google Maps yang Viral Kembali

Sebenarnya, kemampuan untuk melihat foto lama di Google Maps bukanlah fitur baru.

Dikenal dengan nama "See more dates", opsi ini memungkinkan pengguna mengakses arsip foto Street View dari tahun-tahun sebelumnya, bahkan hingga tahun 2007.

Namun, pada awal April 2026, tren ini kembali meledak popularitasnya di media sosial seperti TikTok dan X (Twitter).

Banyak pengguna yang secara spontan mengunggah hasil perbandingan fasad rumah mereka dari satu dekade lalu dengan kondisi terkini.

Sensasi nostalgia yang kuat—mulai dari melihat pepohonan yang telah ditebang, kendaraan lawas yang terparkir, hingga bertemu kembali sosok orang tua atau hewan peliharaan yang sudah tiada—menjadi daya tarik utama.

Tidak butuh waktu lama bagi konten-konten ini untuk menyebar luas, melahirkan sebuah tren baru yang dinamis.

Antara Haru dan Gelitik: Isi Tren dan Dampak Psikologis

Konten dalam tren ini sangat beragam. Mayoritas pengguna membagikan momen haru.

Banyak yang dibuat menangis karena bisa melihat kembali orang tua atau saudara yang sudah meninggal dunia tertangkap kamera Google Maps saat sedang berkebun atau duduk di teras.

Ada pula yang hanya sekadar penasaran melihat perubahan lingkungan sekitar. Namun, di sisi lain, tren ini juga menjadi ajang pamer transformasi materi.

Tak sedikit yang dengan bangga memperlihatkan rumah sederhana mereka di tahun 2015 yang kini telah berubah menjadi bangunan mewah di tahun 2026.

Pro dan Kontra: Perdebatan Panas di Jagat Maya

Seperti fenomena digital pada umumnya, tren ini tak luput dari perdebatan sengit di kolom komentar.

Pendukung tren ini berargumen bahwa ini adalah cara yang indah untuk mengingat masa lalu dan merayakan perjalanan hidup.

Namun, suara sumbang justru lebih keras terdengar. Kritik utama tertuju pada potensi pamer aset yang bisa memicu kecemburuan sosial.

Kekhawatiran lain adalah soal keamanan data. Menampilkan kondisi rumah di masa lalu secara gamblang, menurut beberapa pakar, bisa memberikan petunjuk berharga bagi pihak yang berniat jahat.

Apalagi, banyak warganet yang juga mengunggah foto rumah orang lain tanpa izin.

Hal ini dinilai sebagai bentuk pelanggaran privasi yang serius dan telah menimbulkan keresahan di berbagai komunitas perumahan.

Risiko Privasi dan Keamanan yang Perlu Diwaspadai

Fenomena ini menyoroti celah keamanan yang jarang disadari.

Pertama, risiko geolokasi. Dengan memamerkan foto fasad rumah lengkap dengan nomor atau ciri khas bangunan, oknum tidak bertanggung jawab bisa dengan mudah melacak alamat pasti.

Kedua, potensi pencurian data. Informasi tentang keberadaan pemilik rumah di masa lalu bisa disalahartikan.

Ketiga, menyebarkan foto rumah orang lain tanpa izin jelas merupakan pelanggaran etika dan hukum. Oleh karena itu, penting untuk selalu mengaburkan detail sensitif seperti plat nomor kendaraan, wajah orang lain yang tidak berkepentingan, atau ciri khas alamat jika tetap ingin ikut tren.

Kesalahan Umum dan Mitos yang Perlu Diluruskan

Sebelum ikut-ikutan, ada baiknya Anda mengetahui beberapa hal teknis yang sering disalahpahami:

  • Bukan Fitur Baru: Fitur "See more dates" sudah ada sejak bertahun-tahun lalu, bukan rilis 2026. Yang viral adalah tren penggunaannya.

  • Tidak Semua Lokasi Terekam: Arsip foto hanya tersedia untuk lokasi yang sering dilewati mobil pemotret Google. Rumah di gang sempit atau pedesaan mungkin tidak memiliki data historis.

  • Urutan Tahun Tidak Berurutan: Google Maps tidak menyimpan foto setiap tahun. Ada kalanya loncatan waktu mencapai 3-5 tahun. Jangan panik jika tidak menemukan foto tahun kemarin.

  • Akses Terbatas di Mobile vs Desktop: Beberapa pengguna mengeluh opsi "See more dates" tidak muncul. Biasanya, antarmuka desktop lebih responsif untuk fitur ini dibandingkan aplikasi mobile.

Cara Melihat Rumah Dulu di Google Maps

Bagi Anda yang tetap ingin mencoba, ikuti langkah-langkah aman berikut ini (diakses melalui Desktop/Laptop untuk hasil optimal):

  1. Buka Google Maps di browser dan masukkan alamat rumah atau lokasi yang ingin dilihat.

  2. Aktifkan Street View dengan menyeret ikon "Pegman" (orang kuning) ke titik jalan terdekat.

  3. Cari Opsi Waktu setelah tampilan jalan muncul, cari teks bertuliskan "See more dates" atau ikon jam kecil di pojok kiri atas layar.

  4. Gulir Timeline yang muncul di bagian bawah layar. Pilih tahun yang ingin Anda lihat, misalnya "2011" atau "2014".

  5. Rekam atau Screenshot layar jika ingin membuat konten. Pastikan untuk mengaburkan informasi sensitif seperti nomor rumah atau wajah orang lain sebelum diunggah ke media sosial.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

  1. Apakah tren ini hanya tren temporer atau fitur permanen? Ini adalah fitur permanen Google Maps. Yang viral adalah tren mengunggah perbandingannya di media sosial.

  2. Apakah saya bisa melihat rumah orang lain secara spesifik? Bisa, asalkan alamatnya memiliki cakupan Street View. Namun, menyebarluaskan tangkapan layar rumah orang lain tanpa izin sangat tidak dianjurkan.

  3. Mengapa fitur "See more dates" tidak muncul di HP saya? Cobalah untuk mengakses melalui browser desktop di laptop. Terkadang aplikasi mobile menyembunyikan fitur ini untuk beberapa jenis perangkat.

  4. Apakah data ini bisa dihapus oleh pemilik rumah? Tidak langsung. Google Maps memiliki prosedur pelaporan untuk mengaburkan atau menghapus gambar jika melanggar privasi, namun prosesnya tidak instan.

  5. Apakah ada biaya untuk menggunakan fitur ini? Tidak. Fitur ini gratis untuk semua pengguna.

Menikmati Nostalgia dengan Bijak

Tren melihat rumah dulu vs sekarang di Google Maps adalah bukti betapa teknologi mampu menjadi "mesin waktu" yang membangkitkan kenangan. Ini bisa menjadi momen yang sangat personal dan mengharukan.

Namun, di era digital yang serba terbuka, kita harus lebih cerdas dalam menyikapi setiap fenomena. Kebebasan berekspresi harus tetap berjalan seimbang dengan tanggung jawab menjaga privasi, baik privasi diri sendiri maupun orang lain.

Jadi, jika Anda ingin ikut meramaikan tren ini, lakukanlah dengan aman: nikmati nostalgia, lindungi data, dan sebarkan energi positif. Selamat bernostalgia, tetapi jangan sampai keasyikan lupa daratan!

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.