Jateng

Fakta Unik Vibes! Mengungkap Sejarah Singkat Jalur Kereta Api Merakurak Babat, Kisah Jalur Nonaktif di Jawa Timur

Theo Adi Pratama | 17 Agustus 2024, 11:00 WIB
Fakta Unik Vibes! Mengungkap Sejarah Singkat Jalur Kereta Api Merakurak Babat, Kisah Jalur Nonaktif di Jawa Timur

JATENG.AKURAT.CO, Di sudut Jawa Timur, tersembunyi sebuah kisah menarik tentang jalur kereta api yang kini telah tertidur lelap.

Jalur kereta api Merakurak-Babat, yang pernah menjadi urat nadi perekonomian di wilayah tersebut, kini hanya menyisakan rel-rel tua dan bangunan stasiun yang perlahan memudar termakan waktu.

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa jalur kereta api yang begitu vital ini bisa sampai dinonaktifkan? Apa saja kisah menarik yang tersimpan di balik rel-relnya?

Mari kita telusuri sejarah singkat jalur kereta api Merakurak-Babat dan mengungkap misteri di balik nonaktifnya jalur ini.

Baca Juga: Fakta Unik Vibes! Mengenal Stasiun Tuban, Jejak Perkembangan Sejarah serta Potensi Masa Depan Transportasi Rel di Tuban

Awal Mula Pembangunan: Mimpi Besar di Tengah Tantangan

Sejarah jalur kereta api Merakurak–Babat bermula pada tahun 1915 ketika Staatsspoorwegen (SJS) merencanakan pembukaan beberapa jalur baru.

Rencana ini mencakup rute Lasem–Pamotan–Jatirogo–Bojonegoro, Jenu–Tuban–Babat, serta Ngidon–Rengel–Ponco.

Wilayah di sekitar Sungai Bengawan Solo pada waktu itu belum memiliki jalur kereta api, karena transportasi air yang relatif murah melalui sungai tersebut dianggap cukup memadai.

Namun, usulan untuk membangun jalur kereta api Lasem–Pamotan–Jatirogo–Bojonegoro dan mengembangkan pelabuhan Leran (Lasem) oleh seorang pakar ekonomi dan residen Rembang, Gongrijp, memicu perdebatan sengit di Parlemen Belanda.

Gongrijp percaya bahwa pembangunan jalur kereta api akan memajukan ekonomi Rembang dengan menyediakan sarana transportasi yang lebih baik untuk mendukung aktivitas ekonomi rakyat di pedalaman dan industri perkebunan.

Namun, usulan ini ditolak karena Rembang dianggap sebagai daerah yang kurang produktif dan tidak menjanjikan secara ekonomi.

Ekonomi dan Tantangan Medan: Faktor Penentu Keberhasilan Jalur

Dalam pembangunan jaringan rel kereta api, aspek ekonomi selalu menjadi pertimbangan utama. Pada tahun 1917, NIS mulai mewacanakan pembangunan rel yang menghubungkan Bojonegoro dan Jatirogo karena dianggap memiliki potensi ekonomi yang lebih baik.

Sebaliknya, SJS justru menghentikan proyek jalur Pamotan–Jatirogo karena dianggap tidak menguntungkan.

Di kawasan hutan jati Karesidenan Rembang, pembangunan jalur kereta api menghadapi tantangan besar.

Baca Juga: Fakta Unik Vibes! Mengungkap Sejarah Stasiun Jatirogo, Jejak Perkembangan Transportasi Kereta Api di Tuban dan Industri Kuarsa

Medan yang berbukit dan berkapur, ditambah dengan kondisi tanah yang labil, menyulitkan pengerjaan proyek ini.

Selain itu, meskipun kayu jati sebagai bahan bantalan rel mudah didapat, material lainnya untuk memadatkan jalan kereta api sulit ditemukan.

Hal ini menyebabkan pengembangan jalur utara Bengawan Solo menjadi sangat sulit.

Jalur Kereta Api Merakurak–Babat: Realisasi dan Nonaktif

Meskipun tantangan besar menghadang, NIS berhasil membangun jalur kereta api Merakurak–Babat sepanjang 46 km yang diresmikan pada 1 Agustus 1920.

Jalur ini merupakan bagian dari program kerja NIS yang bertujuan agar masyarakat Tuban dapat menikmati moda transportasi kereta api, setelah kesuksesan jalur Gambringan–Surabaya Pasarturi.

Namun, jalur ini tercatat pernah dinonaktifkan tiga kali dalam sejarahnya.

Penutupan pertama terjadi pada 1 November 1935, ketika segmen Merakurak–Tuban dianggap tidak menguntungkan dan resmi ditutup oleh NIS.

Meskipun demikian, NIS masih berharap dapat mengoperasikan segmen ini di kemudian hari.

Selama masa pendudukan Jepang, segmen Tuban–Plumpang dibongkar oleh pekerja Romusha pada September 1942.

Meskipun jalur ini telah dibongkar, aktivitas di Stasiun Tuban ternyata masih tetap berlangsung, seperti yang terungkap dari sebuah surat angkutan barang yang dikirimkan ke Stasiun Surabaya Pasar Turi pada tahun 1944.

Setelah Indonesia merdeka, Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) mewacanakan reaktivasi sejumlah jalur kereta api yang dibongkar Jepang, termasuk jalur Merakurak–Babat segmen Plumpang–Tuban sepanjang 22 km.

Reaktivasi ini diselesaikan antara tahun 1945–1946, dengan seluruh biaya ditanggung oleh rakyat setempat.

Baca Juga: Fakta Unik Vibes! Mengulik Sejarah Stasiun Tekung, Jejak Transportasi di Lumajang Jawa Timur yang Terlupakan

Meskipun jalur ini sempat beroperasi kembali hingga era Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), namun pada era PJKA, tepatnya pada 5 Desember 1990, jalur ini kembali dinonaktifkan untuk selamanya.

Jalur kereta api Merakurak–Babat menyimpan banyak cerita tentang perjuangan membangun sarana transportasi di tengah tantangan alam dan ekonomi yang berat.

Meskipun kini sudah tidak aktif, sejarahnya tetap menjadi bagian penting dari perkembangan transportasi kereta api di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

Kisah jalur ini mengingatkan kita akan dinamika pembangunan transportasi yang tak hanya melibatkan teknologi, tetapi juga perhitungan ekonomi dan adaptasi terhadap kondisi alam.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.