Jateng

Sarapan Gratis untuk 250 Sekolah, 5 Fakta Program Makan Gratis Jerman yang Tak Banyak Orang Tahu

Theo Adi Pratama | 16 April 2026, 11:06 WIB
Sarapan Gratis untuk 250 Sekolah, 5 Fakta Program Makan Gratis Jerman yang Tak Banyak Orang Tahu

JATENG.AKURAT.CO, Jerman, negara dengan ekonomi terbesar di Eropa, hingga April 2026 belum memiliki program makan siang gratis nasional yang mencakup seluruh anak sekolah.

Namun, di balik ketiadaan kebijakan tunggal dari pemerintah federal, justru terdapat beragam inisiatif lokal yang menarik dan bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia.

Berbeda dengan pendekatan Indonesia melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan secara nasional dengan anggaran fantastis hingga Rp335 triliun di tahun 2026, Jerman memilih jalan yang lebih terdesentralisasi: berbagai kota, negara bagian (Bundesländer), dan komunitas swasta bergerak sendiri-sendiri untuk memastikan tidak ada anak yang lapar.

Mulai dari makan siang gratis untuk seluruh siswa sekolah dasar di Hannover, program sarapan gratis untuk 250 sekolah di North Rhine-Westphalia, hingga kafe unik yang menyajikan makanan gratis dari bahan pangan yang "diselamatkan" dari limbah.

Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber terpercaya, berikut adalah 5 program makan gratis di Jerman yang mungkin tidak banyak diketahui orang dan bisa menjadi inspirasi untuk Indonesia.

1. Hannover: Makan Siang Gratis untuk Semua Anak SD Mulai 2026/2027

Salah satu terobosan paling signifikan di tahun 2026 datang dari kota Hannover, ibu kota Lower Saxony.

Mulai tahun ajaran 2026/2027, setiap anak sekolah dasar (Grundschule) di Hannover akan mendapatkan makan siang gratis, sehat, dan berbahan baku lokal.

Program ini didasari oleh keyakinan bahwa "setiap anak berhak atas makanan yang baik, terlepas dari kondisi keuangan orang tua".

Pemerintah kota memandang program ini sebagai investasi untuk memperkuat kesetaraan kesempatan (Chancengerechtigkeit) dan membangun rasa kebersamaan di antara anak-anak dari berbagai latar belakang ekonomi.

Bagi Indonesia yang tengah menggalakkan program MBG dengan target 82 juta penerima, program Hannover ini menunjukkan bahwa cakupan yang terbatas secara geografis (satu kota) memungkinkan pengelolaan yang lebih terfokus dan terkontrol.

Pendekatan bertahap—memulai dari satu kota sebelum melebarkan ke wilayah lain—bisa menjadi strategi yang lebih efektif untuk menguji model, mengidentifikasi masalah, dan melakukan perbaikan sebelum implementasi skala besar.

2. Program Sarapan Gratis "brotZeit" untuk 250 Sekolah di NRW

Selain makan siang, Jerman juga memiliki inisiatif sarapan gratis yang unik bernama "brotZeit" (Waktu Roti).

Program yang didukung oleh pemerintah negara bagian North Rhine-Westphalia (NRW) ini menyediakan sarapan gratis setiap pagi sebelum pelajaran dimulai untuk hingga 250 sekolah dasar di wilayah tersebut.

Program ini dijalankan oleh sukarelawan yang menyiapkan makanan dan menciptakan suasana kekeluargaan, dengan tujuan utama agar tidak ada anak yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar.

Uniknya, inisiatif ini pertama kali diuji coba di kawasan Ruhr sejak tahun 2020, sehingga memiliki waktu uji coba yang panjang sebelum diperluas cakupannya.

Bagi Indonesia, program ini menunjukkan pentingnya melibatkan sukarelawan dan masyarakat dalam pelaksanaan program makan bergizi, serta pentingnya uji coba bertahap sebelum ekspansi besar-besaran.

3. Program Buah dan Susu Gratis dari Uni Eropa: Skema Pendanaan Eksternal

Jerman juga memanfaatkan pendanaan dari Uni Eropa untuk menyediakan makanan bergizi gratis bagi anak-anak.

Melalui EU School Fruit, Vegetables and Milk Scheme, Jerman mengalokasikan dana untuk memberikan buah, sayur, dan produk susu gratis selama 20 minggu per tahun ajaran kepada siswa di sekolah dasar dan menengah khusus.

Pendaftaran untuk tahun ajaran 2026/2027 dibuka pada pertengahan April 2026.

Yang menarik, program ini tidak hanya sekadar membagikan makanan, tetapi juga dibarengi dengan edukasi pangan (voedseleducatie) yang mengajarkan anak-anak tentang asal-usul makanan, pentingnya gizi seimbang, dan cara mengurangi limbah makanan.

Indonesia dapat menjajaki kemitraan dengan lembaga internasional atau perusahaan swasta untuk mendapatkan tambahan pendanaan atau dukungan teknis bagi program MBG.

Komponen edukasi gizi juga perlu dimasukkan secara sistematis, bukan hanya sekadar pembagian makanan.

4. Program "Alle Kinder essen mit" untuk Keluarga Kurang Mampu di NRW

Pendekatan lain yang diambil Jerman adalah program bantuan yang ditargetkan secara spesifik.

Di North Rhine-Westphalia (NRW), program "Alle Kinder essen mit" (Semua Anak Makan Bersama) yang telah diperpanjang hingga 31 Juli 2026 memberikan subsidi biaya untuk makan siang bersama di daycare dan sekolah, khusus bagi keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi.

Program ini dirancang untuk menjangkau mereka yang tidak memenuhi syarat untuk paket bantuan pendidikan dan partisipasi reguler (Bildungs- und Teilhabepaket), yang mencakup kasus-kasus khusus seperti keluarga dengan penghasilan pas-pasan, masalah keuangan lainnya, atau status tempat tinggal yang tidak aman.

Dengan kata lain, program ini menjadi "jaring pengaman" bagi mereka yang terlewat dari skema bantuan utama.

Pendekatan bertarget ini dapat menginspirasi Indonesia untuk menyempurnakan kriteria penerima program MBG agar lebih presisi dan tepat sasaran.

5. Foodsharing Café: Makan Gratis dari Makanan "Diselamatkan" dengan Sistem Pay What You Want

Di luar ranah sekolah, Jerman memiliki inisiatif komunitas yang sangat kreatif: Foodsharing Café.

Di Mainz, sebuah kafe menyajikan kue, roti, dan berbagai makanan lain secara gratis, yang berasal dari makanan yang "diselamatkan" (food rescued) dari toko roti, supermarket, dan restoran yang tidak akan menjualnya lagi karena mendekati batas kedaluwarsa atau kelebihan stok.

Yang membuat kafe ini unik adalah konsep pembayarannya. Makanan gratis, tetapi untuk minuman, pengunjung diminta membayar dengan sistem "pay what you want" (bayar seikhlasnya).

Selain itu, kafe juga menyelenggarakan berbagai acara gratis seperti konser, pub quiz, dan workshop tentang makanan dan lingkungan.

Inisiatif ini tidak hanya memberi makan mereka yang membutuhkan, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang bahaya limbah makanan dan menciptakan ruang sosial yang inklusif.

Model serupa dapat diadaptasi di Indonesia, misalnya dengan mendirikan "dapur komunitas" atau "lemari makanan bersama" di tingkat kelurahan atau masjid, yang dikelola oleh sukarelawan setempat.

Bonus: Volksinitiative dan Perjuangan Politik untuk Makan Gratis

Menariknya, perjuangan untuk makan siang gratis di Jerman juga terjadi di ranah politik akar rumput.

Pada Maret 2026, sebuah Volksinitiative (inisiatif rakyat) diluncurkan di Brandenburg untuk menuntut makan siang gratis dan sehat bagi siswa kelas 1 hingga 6.

Inisiatif ini membutuhkan setidaknya 20.000 tanda tangan sah agar dapat dibahas di parlemen negara bagian.

Pengacara yang mendampingi inisiatif ini adalah tokoh politik senior Jerman, Gregor Gysi (Die Linke), yang dikenal sebagai salah satu politisi paling karismatik di Jerman timur.

Kelompok AWO (Arbeiterwohlfahrt) melaporkan bahwa biaya makan siang sekolah saat ini berkisar antara 4 hingga 5 Euro per anak, yang berarti keluarga dengan dua anak harus mengeluarkan 170 hingga 200 Euro per bulan.

Gerakan akar rumput seperti ini menunjukkan bahwa tuntutan akan akses pangan gratis dapat muncul dari bawah dan didorong oleh partai politik serta tokoh publik.

Tabel Rangkuman Program Makan Gratis di Jerman

Nama Program

Jenis

Wilayah

Mulai

Target

Sumber Pendanaan

Makan Siang Gratis Hannover

Makan siang sekolah

Hannover (Lower Saxony)

2026/2027

Semua anak SD

Pemerintah kota

brotZeit

Sarapan gratis

NRW (250 sekolah)

2020 (uji coba)

Anak SD kurang mampu

Pemerintah negara bagian + sukarelawan

EU School Fruit, Milk Scheme

Buah, sayur, susu gratis

Nasional

20 minggu/tahun

Siswa SD & SMP

Uni Eropa

Alle Kinder essen mit

Subsidi makan siang

NRW

Diperpanjang hingga Juli 2026

Keluarga kurang mampu (kasus khusus)

Pemerintah negara bagian

Foodsharing Café

Makanan gratis (dari makanan "diselamatkan")

Mainz, Stuttgart, Tübingen

Berkelanjutan

Semua orang

Sumbangan, sukarelawan

Volksinitiative Brandenburg

Advokasi makan siang gratis

Brandenburg

2026 (pengumpulan tanda tangan)

Siswa kelas 1-6

Gerakan akar rumput

Catatan: Hingga April 2026, belum ada program makan siang gratis nasional di Jerman. Inisiatif di atas bersifat lokal, berbasis negara bagian, atau berasal dari komunitas swadaya.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

Q: Apakah Jerman memiliki program makan siang gratis nasional seperti Indonesia?
A: Tidak. Jerman tidak memiliki program makan siang gratis nasional yang mencakup seluruh anak sekolah. Sebaliknya, program-program makan gratis bersifat lokal, berbasis negara bagian (Bundesländer), atau berasal dari inisiatif swadaya masyarakat.

Q: Berapa biaya makan siang sekolah di Jerman untuk keluarga yang tidak mendapat bantuan?
A: Biaya makan siang sekolah di Jerman berkisar antara 4 hingga 5 Euro per anak per hari, yang berarti keluarga dengan dua anak harus mengeluarkan 170 hingga 200 Euro per bulan.

Q: Apa itu Foodsharing Café dan bagaimana cara kerjanya?
A: Foodsharing Café adalah kafe yang menyajikan makanan gratis dari bahan pangan yang "diselamatkan" (food rescued) dari toko roti, supermarket, dan restoran yang akan membuangnya karena mendekati kedaluwarsa. Minuman dibayar dengan sistem "pay what you want" (bayar seikhlasnya).

Q: Bagaimana dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) Indonesia?
A: Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp335 triliun pada tahun 2026 untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menargetkan sekitar 82 juta penerima manfaat dan diproyeksikan dapat menyerap hingga tiga juta tenaga kerja. Program ini mencakup siswa sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan lansia.

Q: Apa yang bisa dipelajari Indonesia dari program makan gratis Jerman?
A: Setidaknya ada lima pelajaran penting: (1) pendekatan bertahap dan terfokus secara geografis sebelum ekspansi besar-besaran; (2) keterlibatan sukarelawan dan komunitas dalam pelaksanaan; (3) integrasi edukasi gizi sebagai bagian dari program; (4) pendanaan dari berbagai sumber (pemerintah daerah, UE, swasta); (5) mekanisme bantuan yang ditargetkan secara spesifik untuk kasus-kasus khusus.

Penutup

Meskipun Jerman belum memiliki program makan siang gratis nasional, berbagai inisiatif lokal yang ada—mulai dari program Hannover yang mencakup semua anak SD, hingga kafe foodsharing dengan sistem bayar seikhlasnya—menawarkan model-model alternatif yang menarik.

Pendekatan yang beragam, bertahap, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan (pemerintah daerah, Uni Eropa, sukarelawan, dan komunitas) menunjukkan bahwa tidak ada satu cara pun yang "paling benar" dalam menangani masalah pangan bergizi.

Bagi Indonesia, program MBG yang ambisius dapat belajar banyak dari pengalaman Jerman.

Pendekatan bertahap, pelibatan komunitas lokal, integrasi edukasi gizi, serta diversifikasi sumber pendanaan adalah kunci untuk menciptakan program yang tidak hanya memberi makan, tetapi juga membangun kesadaran dan kemandirian pangan jangka panjang.

Pertanyaannya sekarang, apakah Indonesia siap untuk mengadopsi model yang lebih fleksibel dan berbasis komunitas ini?

Apakah Anda memiliki pengalaman dengan program makan gratis di lingkungan Anda? Atau mungkin Anda memiliki ide tentang bagaimana Indonesia bisa belajar lebih banyak dari praktik terbaik negara lain? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar—karena masa depan generasi penerus bangsa adalah tanggung jawab kita bersama.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.