Jateng

Haul Mbah Syafi’i Dorong Usulan Pahlawan Nasional, Jejak Sejarah Terus Ditelusuri

Muhammad Husni Mushonifi | 13 April 2026, 16:26 WIB
Haul Mbah Syafi’i Dorong Usulan Pahlawan Nasional, Jejak Sejarah Terus Ditelusuri

JATENG.AKURAT.CO, Peringatan Haul Akbar KH R Syafi’i Piyoro Negoro di kawasan Mangkang, Kota Semarang, menjadi momentum penting untuk mendorong pengusulan tokoh ulama tersebut sebagai pahlawan nasional. 

Ribuan warga yang mengikuti kirab budaya pada Minggu (12/4/2026) turut menegaskan pentingnya pelestarian nilai sejarah dan perjuangan ulama dalam penyebaran Islam di Jawa.

Kirab budaya yang digelar meriah ini diikuti peserta dari berbagai wilayah. Rute perjalanan dimulai dari Terminal Mangkang menuju kompleks pemakaman di Dondong, Wonosari, Ngaliyan. 

Baca Juga: Longsor Tanggul Gunungpati Ungkap Kerentanan Permukiman, Warga Selamat Berkat Evakuasi Cepat

Sepanjang perjalanan, peserta menampilkan beragam atraksi budaya sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan dakwah Mbah Syafi’i.

Dalam momentum tersebut, dorongan untuk memberikan pengakuan lebih luas terhadap kiprah KH R Syafi’i kembali menguat. 

Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman, menilai perjuangan Mbah Syafi’i tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga berkaitan dengan perlawanan terhadap penjajah.

Baca Juga: Kerjasama dengan UGM, Udinus Luncurkan Program Akselerasi, Mahasiswa Teknik Biomedis Bisa Raih Dua Gelar dalam 5 Tahun

“Perjuangan beliau harus terus diteladani. Bahkan sudah sepantasnya diusulkan sebagai pahlawan nasional,” ujar pria tang akrab disapa Pilus, Minggu (12/4/2026).

Ia menambahkan, rangkaian haul yang diisi dengan doa, kirab budaya, hingga lantunan sholawat mampu memperkuat kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai perjuangan yang diwariskan tokoh tersebut.

Sementara itu, upaya penelusuran sejarah Mbah Syafi’i masih terus dilakukan oleh pengurus Pondok Pesantren Luhur. Keterbatasan dokumen menjadi kendala utama dalam mengungkap lebih jauh kiprah beliau di masa lampau.

Sejumlah arsip penting disebut hilang akibat pembakaran pada masa kolonial serta bencana banjir yang pernah terjadi. “Literasi terkait beliau masih terus dicari. Ada dokumen yang dahulu dibakar dan sebagian hilang karena banjir,” ungkap salah satu pengurus pondok.

Pesantren Luhur yang berdiri sejak 1609 dan masih aktif hingga kini dinilai menjadi bukti konkret keberlanjutan ajaran yang diwariskan Mbah Syafi’i.

Pelaksanaan kirab budaya tahun ini juga semakin semarak dengan keterlibatan 48 kelompok dari tingkat RW dan kelurahan. Peserta berasal dari berbagai wilayah, di antaranya Ngaliyan, Tugu, Mijen, hingga Semarang Barat.

Selain kirab, rangkaian kegiatan lain seperti lomba rebana turut digelar. Dalam kirab tersebut, peninggalan berupa kitab milik Mbah Syafi’i juga ditampilkan sebagai simbol keberlanjutan tradisi keilmuan Islam.

Kegiatan haul ini tidak hanya menjadi seremoni budaya, tetapi juga berfungsi sebagai upaya memperkuat syiar Islam sekaligus menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap tokoh lokal yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah penyebaran agama dan perjuangan bangsa.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.