Jateng

Mengulik Lebih Dalam 5 Fakta Terbaru PT Sritex usai Viral Dikabarkan Bangkrut, Ternyata Tidak Berkantor Pusat di Solo, Cek Biar Makin Paham

Arixc Ardana | 26 Juni 2024, 11:50 WIB
Mengulik Lebih Dalam 5 Fakta Terbaru PT Sritex usai Viral Dikabarkan Bangkrut, Ternyata Tidak Berkantor Pusat di Solo, Cek Biar Makin Paham

AKURAT.CO, PT Sri Rejeki Isman Tbk atau biasa dikenal dengan nama Sritex, merupakan salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia

Berikut ini sejumlah fakta menarik yang belum banyak diketahui masyarakat terkait PT Sritex, termasuk usai kabar viral jika perusahaan ini mengalami kebangkrutan

PT Sritex usai Viral Dikabarkan Bangkrut, Ternyata Tidak Berkantor Pusat di Solo, Cek Biar Makin Paham sederet fakta menarik terkait perusahaan ini

Baca Juga: PENASARAN DI MANA? Ini 3 Daerah Ternyata Paling Jauh dari Ibu Kota Kabupaten Purworejo, Bisa Jadi Punya Potensi Keindahan Tersembunyi

Sritex tidak hanya menjadi perusahaan tekstil terkemuka, tetapi juga merupakan simbol kebanggaan Indonesia di kancah internasional. 

Awal Mula Sederhana

1.Sritex didirikan pada tahun 1966 sebagai perusahaan perdagangan kecil di Pasar Klewer, Solo, dengan nama "UD Sri Redjeki".

Dari usaha kecil ini, Sritex berkembang menjadi raksasa tekstil yang mendunia

2. Sritex memiliki kantor pusat di Sukoharjo, Jawa Tengah, dan kantor perwakilan di Jakarta.

Operasionalnya tersebar di lahan seluas 79 hektare di Sukoharjo, dan perusahaan ini mempekerjakan tenaga profesional dari berbagai negara, termasuk Korea Selatan, Filipina, India, Jerman, dan Tiongkok.

 

Sritex dipercaya oleh brand-brand ternama dunia seperti H&M, Walmart, K-Mart, dan Jones Apparel untuk memproduksi tekstil berkualitas tinggi.

 

3. Didirikan oleh Lukminto, Sritex telah menorehkan banyak prestasi.

Sejak tahun 1984, Sritex dipercaya memproduksi seragam militer untuk NATO dan Jerman. Pada tahun 2013, Sritex resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

 

Di masa pandemi Covid-19, Sritex menunjukkan kepeduliannya dengan mendistribusikan 45 juta masker hanya dalam waktu tiga minggu.

Pada tahun 2020, Sritex juga menorehkan sejarah baru dengan mengekspor produknya ke Filipina untuk pertama kalinya.

4. Bantah Pailit

Sritex menegaskan bahwa perusahaan masih beroperasi dan tidak ada putusan pailit dari pengadilan, meskipun kabar tentang utang dan kebangkrutan beredar.

 

Penurunan pendapatan Sritex diakui memang terjadi, dimulai sejak pandemi COVID-19 dan diperparah dengan perang di Ukraina dan Palestina.

 

Kondisi geopolitik dan perang menyebabkan gangguan rantai pasokan dan penurunan ekspor, terutama ke kawasan Eropa dan Amerika Serikat.

 

5. Dumping Produk Tekstil China

Terjadi oversupply tekstil di China yang mengakibatkan dumping harga produk ke negara lain, termasuk Indonesia.

 

Sritex telah memohon relaksasi kepada kreditur dan mayoritas telah menyetujui. Restrukturisasi melalui PKPU telah selesai dan berkekuatan hukum tetap.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.