Toko Tong Hien Gulung Tikar, Sebuah Kejayaan Ekonomi di Awal Kemerdekaan Yang Tergilas Zaman

AKURAT.CO, Di era digital seperti sekarang ini, berjualan dengan harga murah saja tidak cukup. Tapi bagaimana si penjual mampu melakukan soft power atau pendekatan emosional kepada konsumen melalui layar gadget.
Bahkan toko-toko modern dan swalayan sekalipun bakal kewalahan menyaingi kuatnya berjualan melalui platform digital.
Kekalahan seperti ini juga dialami oleh sebuah toko kelontong yang sempat merajai dunia 'kulakan' di Kota Semarang, yaitu Toko Tong Hien.
Baca Juga: Live Now: Persaingan Sengit Liga 3 Jatim - PSM Madiun vs PERSSU Sumenep
Mungkin Gen Z di Ibu Kota Jawa Tengah tidak akrab dengan toko ini. Namun generasi Baby Boomers dan Milenial Kota Lumpia punya kenangan manis di toko yang berdiri pada 1952 ini.
Pada masa jayanya, Toko yang berdiri di Jalan Sultan Agung Kecamatan Gajahmungkur ini terkenal dengan stok kebutuhan masyarakat dengan harga yang sangat merakyat.
Hingga akhirnya datanglah era toko modern kemudian tergilas dengan maraknya 'toko' digital.
Keterangan di atas dikuatkan oleh pemerhati sejarah Semarang, Johanes Christiono. Menurutnya, Toko Tong Hien tidak mampu menutup kebutuhan oprasional seiring dengan melesatnya toko modern dam digital.
"Karena kalah bersaing dengan online juga. Operasional toko nggak ketutup penghasilan," ucapnya pada Kamis (1/2/2024).
Di sekitar jalan Sultan Agung sendiri, saat ini telah banyak berdiri toko modern, perhotelan, rumah sakit, dan Hotel Padma yang berdiri megah di depan Toko Tong Hien.
Januari ini adalah bulan terakhir Toko Tong Hien buka dan bulan depan, kabarnya bangunan tersebut harus dikosongkan.
Johanes Christiono menambahkan, Toko Tong Hien awal berdiri di Jalan Argopuro tahun 1952.
"Tapi awalnya di Jalan Argopuro lalu pindah ke Jalan Sultan Agung itu. Awalnya hanya menyewa tapi lambat laun dibeli," ungkapnya saat dihubungi.
Baca Juga: Mahasiswa USM Raih Medali Perak Pada Kejuaraan Bulutangkis Dinus Badminton Cup VI
Dengan tahun berdirinya itu, Johanes mengatakan jika Tong Hien jadi toko kelontong besar pertama di Semarang pasca kemerdekaan.
"Toko Tong Hien seangkatan juga dengan Toko Siranda yang saat ini sudah tutup," sambungnya.
Tahun 2015, Tong Hien sempat kebakaran dan tutup, namun pada 2016 mereka buka kembali.
Kemudian dari kabar yang diterima oleh Johanes, Tong Hien tutup karena mungkin kalah saing dengan toko kelontong modern saat ini.
Berbagai kenangan manis pun diungkapkan warganet karena kabar tutupnya Tong Hien ini disebar di Facebook Kota Semarang Tempo Doeloe.
Seperti yang disampaikan oleh akun Thathayeqo Ummu TitaAfis. Dia mengungkapkan bahwa dulu sering beli es krim di Tong Hien.
"Ini toko yg dulu aku beli es krim tiap mau ke rumah eyang di Gajah Mungkur. Oh iya ingat pas dulu abis operasi amandel waktu TK di Elisabeth beli es krim nya jg disini. Tonghien ini toko legend bgd buat aku," tulisnya.
Sedangkan Budi Santoso mengatakan jika pada tahun 80-an dia sering mendatangi toko Tong Hien untuk menitipkan kue lumpur.
"Tahun 80 an saya setiap pagi mendatangi toko ini untuk menitipkan kue Lumpur buatan bude. Saya tinggal di Jalan Raung. Kenangan yang indah," ujarnya.
Tidak hanya dua orang itu, akun Marskidha Lestari juga punya kenangan khusus di Toko Tong Hien Semarang.
"Sejak kecil sering belanja ke Tong Hien. Banyak kenangan ketika diajak ibu ke sini. Paling seneng kalau dibeliin bolu Surabaya yg bentuknya segitiga, dan permen coklat payung. Namun sejak jalan Sultan Agung diberi batas marka jalannya jadi repot kalau ke sana karena rumah saya seberang Tong Hien. Harganya juga lebih murah di banding supermarket lainnya," jelasnya.
Selain tiga orang tadi banyak yang mengutarakan kenangannya. Terutama ketika hendak naik bus, kernet bus selalu berkata Tong Hien sebagai patokan berhenti.
Kemudian selain pegawai Tong Hien yang mungkin bakal kehilangan tempat kerjanya, ada satu juru parkir bernama Wardi (67).
Meski sebagai juru parkir, Wardi sudah bekerja sejak 1979. Dia pun jadi saksi masa kejayaan Tong Hien, serta bagaimana sekelilingnya berubah.
Sekitar tahun 70-80-an misalnya, halaman toko sempat jadi Terminal Bemo. Tak heran, beberapa waktu apabila naik bus, kernet mematok lokasi Tong Hien sebagai tempat pemberhentian.
Tidak hanya itu, sepanjang tahun 1980 sampai 2000 an awal, toko ini cukup ramai layaknya supermarket modern saat ini.
"Dulu yang beli orang-orang berada. Pengusaha-pengusaha sampai Jenderal," katanya.
Dengan tutupnya Tong Hien ini, Wardi mengaku cukup sedih lantaran toko itu sudah jadi bagian dari hidupnya.
"Agak sedih juga. Saya bisa nyekolahkan anak saya sampai kuliah ya gara-gara di sini," ucapnya.
Wardi yang sudah lebih dari 40 tahun menjadi juri parkir Toko Tong Hien bercerita soal kenangan hidupnya bersama toko ini.
Dia benar-benar jadi saksi masa kejayaan Tong Hien, serta bagaimana sekelilingnya berubah.
Dengan tutupnya Tong Hien ini, Wardi mengaku cukup sedih lantaran toko itu sudah jadi bagian dari hidupnya.
"Agak sedih juga. Saya bisa nyekolahkan anak saya sampai kuliah ya gara-gara di sini," ucapnya.
Saat ini, jika kita memperhatikan kondisi di dalam toko, akan terlihat pemandangan etalase kosong hampir di seluruh bagian ruangan.
Hari-hari ini, pemilik Toko Tong Hien cuci gudang. Mereka memasang diskon besar sampai 50 persen agar barang mereka cepat habis dan bahkan menjual berbagai perkakas toko mulai dari pendingin minuman etalase, sampai keranjang lebaran.
Kalaupun ada barang, hanya segelintir saja menunggu derma pembeli untuk membeli atau memborongnya.
Banyak narasi saling berspekulasi di sosial media maupun antarmulut, namun yang jelas toko kelontong tertua di Semarang itu bakal tutup.
Maka tak heran, ketika datang ke sana, beberapa pelanggan terkejut dan bertanya, kenapa stok barang habis. Para pegawai pun dengan wajah lesu juga barangkali sudah bosan memberi tahu jika tempat kerjanya itu bakal gulung tikar.
Kata salah seorang pegawai, bosnya sedang sibuk hitung-hitungan bersama sales.
"Maaf, belum bisa ditemui karena sedang sibuk. Kami harus segera angkat kaki dari tempat ini," ungkap sang pegawai.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 4Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 5Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 6Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 7Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?





