Perjalanan Indosat: Dari Penanaman Modal Asing hingga Merger dengan Tri Indonesia

AKURAT.CO, Indosat, yang awalnya bernama Indonesian Satellite Corporation, didirikan pada 10 November 1967 sebagai perusahaan penanaman modal asing pertama di Indonesia yang menyediakan layanan telekomunikasi internasional.
Awalnya, modal perusahaan ini berasal dari American Cable & Radio Corporation, anak perusahaan dari International Telephone & Telegraph Corporation, dengan modal awal sebesar US$ 6 juta.
Pada 1980, pemerintah Indonesia mengakuisisi sahamnya untuk membangun program satelit Orde Baru. Kemudian, pada 1994, Indosat menjadi perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dan New York Stock Exchange.
Baca Juga: Tak Hanya Indosat, Pengguna Jaringan Seluluer 3 Juga Terdampak
Indosat mengambil alih saham mayoritas Satelindo dan SLI, kemudian mendirikan PT Indosat Multimedia Mobile (IM3) sebagai pelopor jaringan GPRS dan layanan multimedia.
Pada tahun 2003, Indosat bergabung dengan tiga anak perusahaan ini untuk membentuk operator seluler di Indonesia.
Indosat juga mendapatkan lisensi jaringan 3G dan memperkenalkan layanan 3,5G di Jakarta dan Surabaya.
Pada tahun 2009, Qtel (sekarang Ooredoo) membeli saham seri B sebanyak 24,19% dari publik, menjadi pemegang saham mayoritas Indosat dengan kepemilikan sebesar 65%.
Baca Juga: Jadwal Semifinal Liga 3 Jawa Tengah 2023: Persip Pekalongan Siap Tantang PSDB Demak
Pada tahun 2011, Indosat menguasai 21% pangsa pasar dan pada tahun 2013, memiliki 58,5 juta pelanggan untuk telepon genggam.
Pada tahun 2015, jumlah pelanggan Indosat naik menjadi 68,5 juta pelanggan. Pada tahun yang sama, Indosat mengubah identitas dan logonya menjadi Indosat Ooredoo.
Pada 2021, Indosat dan Tri Indonesia resmi menggabungkan usaha atau merger. Perusahaan gabungan ini diberi nama PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk, berada di peringkat kedua sebagai operator seluler terbesar di Indonesia setelah Telkomsel dari sisi jumlah pengguna.
Saham PT Indosat Tbk saat ini dimiliki oleh Ooredoo Asia Pte Ltd sebanyak 65%, PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) 14,29%, dan saham publik sebesar 20,71%.
Transaksi merger ini mengonsolidasikan perusahaan dengan valuasi mencapai US$ 6 miliar atau setara Rp 85,26 triliun, dengan pendapatan tahunan perusahaan telekomunikasi ini akan mencapai sekitar US$3 miliar atau sekitar Rp 42,6 triliun.
Peleburan usaha juga memperkuat skala bisnis, kinerja finansial, teknologi, produk, layanan, dan peningkatan jaringan telekomunikasi dan layanan digital.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 7Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?







