Jateng

Langkah Strategis Jepang: Amankan Pasokan LNG Alaska, Proyek Raksasa Senilai Rp 680 Triliun

Theo Adi Pratama | 11 September 2025, 07:33 WIB
Langkah Strategis Jepang: Amankan Pasokan LNG Alaska, Proyek Raksasa Senilai Rp 680 Triliun

JATENG.AKURAT.CO, Jepang, sebagai salah satu konsumen energi terbesar di dunia, kembali menunjukkan taringnya dalam perburuan pasokan energi global.

Kali ini, mereka melirik proyek LNG Alaska yang bernilai fantastis, yaitu 44 miliar dolar AS atau setara dengan lebih dari Rp 680 triliun.

Langkah ini bukan cuma soal bisnis, tapi juga tentang keamanan energi di tengah geopolitik yang tidak menentu.

JERA, produsen listrik terkemuka di Jepang, dikabarkan sedang menjajaki kesepakatan untuk membeli gas alam cair (LNG) dari proyek ini.

JERA dan Proyek LNG Alaska: Sinyal Kuat Komitmen Jepang 

Pada Rabu lalu, developer proyek Alaska LNG, Glenfarne, mengumumkan telah menandatangani surat niat (letter of intent) dengan JERA.

Kesepakatan ini mencakup penjualan 1 juta ton LNG per tahun selama 20 tahun.

Angka ini terbilang besar, dan menjadi sinyal kuat bahwa JERA, yang merupakan perusahaan patungan dari Tokyo Electric Power dan Chubu Electric Power, serius mempertimbangkan proyek ini.

Baca Juga: Tembakan Pertama NATO: Saat Polandia Tembak Jatuh Drone Rusia, Eropa di Ambang Perang?

Meskipun ini baru surat niat dan belum menjadi kontrak yang mengikat, kesepakatan ini membuka jalan bagi kedua belah pihak untuk bertukar informasi dan berkolaborasi.

Tujuannya? Tentu saja untuk menilai kelayakan proyek ini dari segi waktu dan ekonomi.

Ryosuke Tsugaru, Chief Low Carbon Fuel Officer JERA, menyatakan bahwa LOI ini menjadi "platform untuk dialog berkelanjutan" dan mereka akan mendalami pemahaman tentang proyek ini seiring dengan ketersediaan detail yang lebih banyak.

Mimpi Trump dan Realitas Bisnis 

Proyek Alaska LNG ini sendiri bukan hal baru. Proyek ini sudah lama digadang-gadang untuk mengangkut gas yang terperangkap di utara Alaska ke selatan, lalu dicairkan dan diekspor.

Yang menarik, proyek ini mendapat dukungan penuh dari Presiden AS Donald Trump.

Sejak kembali menjabat, Trump berjanji untuk mendorong proyek ini sebagai bagian dari ambisinya untuk menjadikan AS sebagai pemimpin energi global.

Namun, di balik optimisme Trump, ada beberapa pejabat dan eksekutif energi Jepang yang masih ragu.

Mereka khawatir biaya proyek yang sangat besar akan membuat harga gas dari Alaska kurang kompetitif dibandingkan sumber lain.

Inilah mengapa JERA dan pemerintah Jepang bersikap hati-hati dan melakukan penilaian mendalam.

Bahkan, Reuters melaporkan bahwa pemerintah Jepang telah menyewa konsultan ternama, Wood Mackenzie, untuk mengkaji ulang proyek pipa gas dan pabrik LNG ini.

Langkah ini menunjukkan bahwa Tokyo sedang mempertimbangkan keterlibatan yang lebih dalam.

Mengapa Alaska Begitu Penting? 

Lokasi Alaska yang strategis menjadi daya tarik utama bagi pembeli LNG di Asia.

Dengan rute pengiriman yang lebih pendek ke Asia dibandingkan dengan proyek-proyek LNG di Pantai Teluk AS, LNG dari Alaska berpotensi menawarkan biaya pengiriman yang lebih rendah.

Ini bisa menjadi kunci untuk mengatasi kekhawatiran Jepang terkait daya saing harga.

Glenfarne, yang baru mengambil alih peran pengembang utama proyek ini pada Maret lalu, memang gencar mencari pembeli.

Selain JERA, mereka sudah memiliki kesepakatan awal dengan perusahaan seperti CPC dari Taiwan dan PTT dari Thailand.

Namun, kesepakatan yang mengikat masih menjadi target utama mereka.

Pihak Glenfarne menargetkan keputusan investasi akhir (FID) untuk pipa LNG Alaska pada akhir 2025 dan untuk komponen ekspor LNG pada 2026.

Jika semua berjalan lancar, proyek ini tidak hanya akan memperkuat posisi AS di pasar energi global, tetapi juga memberikan jaminan pasokan jangka panjang bagi negara-negara sekutu di Asia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.