Jateng

Dr Kholidul Adib: Alih Fungsi Lahan dan Galian C Sebabkan Banjir Besar di Grobogan dan Demak

Theo Adi Pratama | 12 Februari 2024, 11:45 WIB
Dr Kholidul Adib: Alih Fungsi Lahan dan Galian C Sebabkan Banjir Besar di Grobogan dan Demak

AKURAT.CO, Kabupaten Demak selama ini dikenal sebagai kawasan hilir di pesisir pantai utara Jawa Tengah. Hal itu diungkapkan oleh Dr Kholidul Adib pada Senin (12/2/2024).

Dr Kholidul Adib adalah pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang yang lahir di Kecamatan Guntur Kabupaten Demak.

Dia juga ketua perkumpulan Reksobumi, sebuah organisasi yang berkonsentrasi terhadap pelestarian lingkungan.

Adib mengatakan, selama ini sudah populer adagium di kalangan masyarakat bahwa Demak itu kalau "di musim tigo ora iso cewok lan di musim rendeng ora iso ndodok".

Baca Juga: Dalami Keterkaitan Penggunaan Bahasa Terhadap Konservasi Lingkungan, Dekan FBS UNNES Dikukuhkan Menjadi Profesor

Artinya di musim kemarau orang Demak itu tidak bisa cebok karena kekurangan air dan di musim hujan Demak tidak bisa duduk karena kelebihan air bahkan sering terjadi banjir.

"Adagium atau anekdot ini sudah populer di kalangan masyarakat Demak yang seolah-olah sudah menjadi kepasrahan atau penerimaan atas alam yang terjadi di setiap tahun," ujar Adib.

Apakah adagium ini akan dipertahankan atau akan dirubah? Adib menjelaskan hal ini berkaitan dengan paradigma pemerintah Kabupaten Demak dalam strategi pembangunan sebagai kawasan hilir.

Adib mengatakan, sebagai kawasan hilir mestinya Pemerintah Kabupaten Demak harus menjadikan sungai dan sanitasi sebagai pilar utama dalam pembangunan.

"Tetapi selama ini agaknya keberadaan sungai dan sanitasi yang berkaitan dengan kawasan hilir belum menjadi paradigma utama," jelasnya.

Baca Juga: KAI Daop 4 Layani 222 Ribu Pelanggan KA Selama Long Weekend Libur Isra Miraj dan Cuti Bersama Imlek

Berkaitan dengan banjir besar yang melanda Grobogan dan Demak pekan lalu, Adib merefleksikan bencana tersebut sebagai renungan kita semua tentang apa yang selama kita perlakukan terhadap alam.

"Kesalahan jelas ada pada manusia sebagai khalifatullah fil ardl," tukasnya.

Manusialah yang telah menciptakan kerusakan di muka bumi dengan banyaknya alih fungsi lahan di kawasan hulu (atas), alih fungsi lahan, sungai-sungai dangkal menyempit dan tidak dinormalisasi, tanggul-tanggul sungai tidak ditinggikan.

Paradigma pembangunan orang hulu mestinya menjaga kelestarian lingkungan jangan asal mudah alih fungsi lahan, jangan mudah menebangi pohon-pohon dan jangan mudah melakukan galian C, sementara paradigma orang di hilir jangan mengabaikan sungai, contoh di Gubug dan Demak sungai-sungai banyak yang dangkal.

Pada banjir pekan kemarin ada 7 tanggul sungai yang jebol termasuk Sungai Wilalung Gajah, mungkin banjir di Karanganyar itu luapan dari jebolnya sungai Wilalung.

Baca Juga: Perburuan Gelar Top Skor Memanas: Pereira vs Ngwoke di Semifinal Liga 2

"Kalau di Wonosalam Dempet Kebonagung akibat jebol tanggul Sungai Tuntang di daerah Gubug kemudian sungai-sungai lain tanggul-tanggul pada bisa jebol. Itu kok bisa bagaimana? Ya karena tidak ada pengerukan," tuturnya.

"Sungai-sungai yang menyempit sementara hujan tinggi lalu air meluap perengan, tanggul sungainya tidak mampu menahan debit air yang tinggi maka jebol," ujarnya.

Maka solusinya lanjut Adib, mestinya kalau di musim kemarau sungai-sungai yang mengarah Demak dari mulai hulu di Kabupaten Semarang sampai ke Demak atau dari pegunungan Kendeng Grobogan Pati yang sekarang gundul banyak alih fungsi lahan itu semua dinormalisasi sungainya tanggulnya dibikin kuat sungainya itu.

Lalu di hulu jangan dibiarkan terjadi penebangan pohon. Sekarang ini banyak alih fungsi lahan ada dibuat galian C, ada yang dibuat persawahan ditanami polowijo jagung dan lain-lain.

"Padahal seharusnya daerah hulu itu daerah resapan air. Ketika daerah atas sudah gundul maka kalau hujan air langsung ke bawah sementara sungai tidak dinormalisasi tanggul jebol jadilah banjir," tutupnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.