Embung Tejorejo Membingungkan Petani, Saat Hujan Banjir, Tapi Saat Kemarau Jadi Kering

AKURAT.CO KENDAL - Upaya penyejahteraan petani yang digalakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan membangun embung sempat mendapat apresiasi masyarakat.
Namun keberadaan embung yang diharapkan membantu petani dalam penyediaan air malah kerap menimbulkan permasalahan baru.
Baca Juga: Up-peak Hotel Simpang Lima Semarang Luncurkan Promo di Bulan Oktober 2023
Contohnya embung yang berada di Desa Tejorejo Kecamatan Ringinarum Kabupaten Kendal.
Embung yang merupakan program bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang beroprasi 21 Mei 2018 dan dibangun oleh kontraktor PT Dwi Perkasa Utama ini menimbulkan banjir ketika musim hujan, dan kering kerontang saat musim kemarau.
Hal ini diutarakan oleh Zaini, seorang petani di Desa Tejorejo yang hingga saat ini belum bisa menggunakan air embung karena kedua permasalahan tersebut.
Baca Juga: Dorong Daya Saing Dan Kemitraan, Walikota Semarang Resmikan Gerai UMKM Di Bandara
"Malah sejak adanya embung ini malah sering terjadi banjir, tapi kalau musim kemarau kayak gini malah kering kerontang," ujar Zaini pada Kamis (5/10/2023).
Zaini memperlihatkan kepada wartawan posisi berdirinya embung itu yang ada di tepian sungai. Sebagian badan embung juga tampak memakan median sungai sehingga sungai menyempit serta mendangkal karena tumpukam sedimen.
"Jadi embung ini dibangun di pinggir sungai yang sebenarnya alirannya lancar. Nah harapannya, embung ini menampung air sungai untuk dimanfaatkan petani. Tapi setelah adanya embung malah airnya meluber ke kampung," tukas Zaini.
Baca Juga: Bunga Tabebuya Bermekaran di Kota Semarang, Netizen : Seperti Bunga Sakura di Jepang
Bahkan rumah zaini yang berjarak 50 meter dari embung kerap terdampak banjir hingga setinggi lutut.
"Malah airnya kalau banjir bisa masuk ke dalam rumah saya sampai setinggi lutut. Padahal pondasi rumah saya tingginya sudah 75 senti meter," tandas Zaini.
Zaini mengatakan, untuk mengatasi masalah banjir, pemerintah telah menjanjikan pembangunan tanggul sebagai penghalang air. Namun hingga saat ini belum terealisasi.
"Padahal dari pemerintah menjanjikan akan membangun tanggul penghalang air agar banjir tidak meluber ke kampung," tutrrnya.
Baca Juga: Atasi Krisis Kekeringan, BUMD Brebes Gelontorkan Air Bersih untuk Warga
Letak embung ini sebenarnya berada di RT 5 RW 4 Dukuh Bakalan, tepat di perbatasan Desa Tejorejo dan Ringinarum. Namun memang peruntukan embung ini untuk dimanfaatkan oleh petani Tejorejo.
Selain itu, jika musim kemarau tiba, petani tidak dapat memanfaatkan embung karena debit air yang menurun hingga setengah meter.
Padahal dalam embung mencapai 5 meter.
Wati, petani perempuan Tejorejo menegaskan bahwa di musim kemarau ini tidak banyak lahan yang bisa memanfaatkan air dari embung.
Menurutnya, paling hanya radius 20 sampai 30 meter saja.
"Itupun sudah sangat kesulitan karena pompa air tidak bisa menaikkan air dari kedalaman 5 meter," ujar Wati.
Baca Juga: Tantang Rans Nusantara FC, PSIS Angkut 21 Pemain Termasuk Dewangga dan Adi Satryo
Sekarang ini kondisi air terus menurun hingga menyisakan setengah meter dari dasar embung.
"Padahal kalau penuh bisa mencapai 5 meter dalam airnya," tegas Wati.
Pada saat embung ini berdiri, Pemerintah Desa Tejorejo Kecamatan Ringinarum akan memanfaatkannya untuk tempat wisata.
Namun kendala yang terjadi saat ini belum ada akses jalan, karena harus melewati lahan milik warga.
Berdasarkan laporan Pemerintah Desa Tejorejo, untuk membuka akses jalan, pihak desa sedang memproses pengadaan tanah dan membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis).***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 7Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?








