Jateng

Hipotermia vs Dehidrasi Terik di Borobudur Marathon: Bedanya Bisa Menyelamatkan Nyawa

Theo Adi Pratama | 30 Oktober 2026, 16:26 WIB
Hipotermia vs Dehidrasi Terik di Borobudur Marathon: Bedanya Bisa Menyelamatkan Nyawa
Foto Ilustrasi - Pertolongan pertama saat dehidrasi terik

JATENG.AKURAT.CO, Borobudur Marathon 2026 digelar 15 November, dan cuaca Magelang yang dingin di pagi hari serta terik menjelang siang membuat dua momok ini nyata: hipotermia di awal lomba dan dehidrasi terik di pertengahan rute. Salah antisipasi, finis bukan di garis akhir, tapi di tenda medis.

Borobudur Marathon 2026 tinggal hitungan hari. Sebanyak 12.500 pelari akan memadati Taman Lumbini, Magelang, pada Minggu, 15 November 2026.

Persiapan panitia disebut sudah 99 persen, tapi Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, tetap meminta mitigasi cuaca ekstrem dan kesiapan medis menjadi prioritas.

Bukan tanpa alasan. Magelang di bulan November adalah wilayah yang baru masuk awal musim hujan.

Artinya, hujan bisa turun tiba-tiba, suhu pagi bisa menusuk, dan siang bisa terik.

Di sinilah pelari sering salah fokus. Mereka sibuk mengatur pace, tapi lupa bahwa tubuh punya dua titik kritis: kedinginan di awal dan kepanasan di tengah.

Dua-duanya bisa membuat lomba berakhir sebelum kilometer 30.

Baca Juga: Borobudur Marathon 2026 Bukan Cuma untuk Pelari: Panduan Liburan Keluarga di Magelang

Hipotermia: Bukan Cuma di Negara Bersalju

Hipotermia terjadi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35°C. Di lomba lari, ini sering dipicu oleh kombinasi hujan, angin, pakaian basah, dan tubuh yang mulai kehabisan energi.

Pelari yang lambat finis—atau yang berhenti di water station terlalu lama—paling rentan.

Gejalanya bertahap. Awalnya menggigil hebat, tangan sulit bergerak, dan bicara mulai pelo.

Kalau dibiarkan, menggigil justru berhenti, tapi kesadaran menurun. Ini bukan tanda membaik. Ini tanda memburuk.

Yang harus dilakukan:

1. Hentikan lomba. Jangan paksakan “sedikit lagi”. Hipotermia bukan rasa tidak nyaman yang bisa dilawan dengan mental baja.

2. Cari tempat kering dan terlindung angin. Tenda medis, balai warga, atau mobil panitia. Jangan berteduh di bawah pohon yang masih terkena angin.

3. Lepas pakaian basah. Ganti dengan baju kering dari drop bag. Kalau tidak ada, bungkus tubuh dengan thermal blanket atau jaket.

4. Hangatkan bagian inti tubuh dulu. Selimuti dada, leher, kepala, dan selangkangan. Jangan langsung memanaskan tangan dan kaki, karena darah dingin dari anggota tubuh bisa mengalir ke jantung dan memicu rewarming shock.

5. Beri minuman hangat, bukan alkohol. Kalau korban sadar penuh, beri minuman manis hangat seperti teh atau cokelat. Alkohol justru memperlebar pembuluh darah dan mempercepat hilangnya panas.

6. Jangan gosok tubuh dengan salju atau air panas. Ini bisa merusak jaringan. Hangatkan perlahan.

Baca Juga: Matahari Magelang Jam 10 Pagi Bukan Main-Main: 7 Cara Bertahan Lari Sampai Finis

Dehidrasi Terik dan Heat Exhaustion: Saat Keringat Tidak Lagi Menolong

Di sisi lain spektrum, ada heat exhaustion—kondisi ketika tubuh kepanasan, banyak berkeringat, tapi tidak cukup cairan dan elektrolit untuk menggantikan yang hilang.

Gejalanya: keringat sangat deras, kulit lembap dan dingin, pusing, lemah, mual, dan kram otot.

Kalau tidak ditangani, ini bisa berkembang menjadi heat stroke, kondisi darurat dengan suhu inti di atas 40°C yang bisa merusak organ.

Yang harus dilakukan:

1. Pindahkan ke tempat teduh. Jangan tunggu sampai pingsan. Begitu pusing atau mual, keluar dari jalur lomba.

2. Longgarkan pakaian. Buka jersey, lepas topi, dan biarkan udara menyentuh kulit.

3. Dinginkan tubuh segera. Kompres bagian leher, ketiak, dan selangkangan dengan kain basah atau es yang dibungkus kain. Kipasi tubuh. Jangan menyiram seluruh tubuh dengan air es dalam jumlah besar—itu bisa memicu kedinginan mendadak.

4. Minum, tapi jangan salt tablet. Beri air atau minuman elektrolit. Salt tablet justru bisa memperparah dehidrasi. Minum bertahap, bukan langsung satu botol besar.

5. Kalau tidak membaik dalam 30 menit, cari bantuan medis. Heat exhaustion biasanya membaik setelah didinginkan dan diberi cairan. Kalau tidak, itu tanda heat stroke.

Baca Juga: 12 Barang di Drop Bag yang Menyelamatkan Hari-H Borobudur Marathon

Tabel: Bedakan Hipotermia vs Heat Exhaustion

Gejala

Hipotermia

Heat Exhaustion

Suhu tubuh

Dingin, menggigil hebat

Panas, berkeringat deras

Kulit

Pucat, dingin, kadang kebiruan

Lembap, dingin, atau panas

Kesadaran

Bingung, bicara pelo

Pusing, lemah, mual

Tindakan utama

Hangatkan inti tubuh, lepas baju basah

Dinginkan tubuh, beri elektrolit

Yang Paling Sering Dilupakan: Elektrolit

Borobudur Marathon menyediakan water station setiap 2–2,5 kilometer. Tapi air putih saja tidak cukup setelah satu jam berlari. Keringat membawa keluar natrium dan kalium.

Kalau hanya diisi air putih, kadar natrium dalam darah bisa turun dan memicu kram serta kebingungan.

Bawa sachet elektrolit di running belt. Konsumsi sebelum otot mulai berkedut.

Jangan tunggu kram datang di Tanjakan Cinta—karena di kilometer 35, yang bisa menolong kamu dalam hitungan detik adalah isi kantong sendiri, bukan ambulans yang masih jauh.

Kalau Kamu Melihat Pelari Lain Kolaps

Jangan jadi penonton yang sibuk merekam. Beberapa hal sederhana yang bisa menyelamatkan:

  • Pindahkan ke tempat teduh atau tempat kering.

  • Cek kesadaran. Kalau tidak sadar, segera panggil petugas medis.

  • Jangan beri minum kalau korban tidak sadar atau tidak bisa menelan.

  • Tetap bersama korban sampai bantuan datang.

Panitia sudah menyiapkan tim medis dan rumah sakit rujukan. Tapi respons pertama selalu datang dari orang terdekat di lintasan.

Hipotermia dan dehidrasi terik bukan mitos. Keduanya nyata, dan keduanya bisa dicegah.

Pakai pakaian yang bisa kering cepat. Bawa jas hujan tipis di drop bag. Minum sebelum haus.

Konsumsi elektrolit. Dan yang paling penting: jangan malu berhenti. Garis finis tidak akan ke mana-mana. Tapi tubuhmu hanya satu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.