Diskusi Film KIAS UPGRIS Soroti Toxic Relationship di Kalangan Mahasiswa

AKURAT.CO, Isu "toxic relationship" kembali mencuat dalam diskusi film yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kajian Ilmu dan Apresiasi Sastra (KIAS) UPGRIS di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa.
Diskusi ini mengangkat film "Panduan Mempersiapkan Perpisahan" karya Andriyanto Dewo yang banyak mengangkat topik "toxic relationship".
Novita Sari, pengurus KIAS, mengungkapkan keprihatinannya terhadap banyaknya mahasiswa yang terjerat dalam hubungan tidak sehat ini.
"Hal semacam itu sering terjadi di kalangan mahasiswa, tapi seringkali tidak disadari," ungkapnya.
Film "Panduan Mempersiapkan Perpisahan" dengan gamblang menggambarkan hubungan tidak sehat antara tokoh Bara (Daffa Wardhana) dan Demi (Lutesha). "
Tidak ada kejelasan dan merugikan salah satu pihak," ungkap Novita di hadapan puluhan peserta diskusi.
Alya Falikhah Fatin, moderator diskusi, mengarahkan pembicaraan ke sisi lain film, yaitu pola kreatif sang sineas.
"Pola konflik yang dibangun dalam film tersebut sebenarnya sudah sangat lazim dijumpai, yaitu tegangan antara orang berpikiran modern dan tradisional-konvensional," ungkap Widyanuari Eko Putra, penggiat buku.
Widyanuari menambahkan bahwa relasi dua tokoh tersebut mencerminkan situasi zaman yang kini terjadi.
"Banyak orang menolak institusi pernikahan karena dianggap mengekang individu. Alasan lainnya adalah kehendak bebas, menjadi manusia tanpa ikatan," ungkap Widyanuari.
Kehendak bebas ini justru ditengarai menjadi pemicu benturan yang berujung pada "toxic relationship".
"Harus disadari, mayoritas masyarakat Indonesia masih sepakat bahwa institusi pernikahan itu penting. Tanpa ada kesepakatan yang equal, mengupayakan hubungan tanpa misi pernikahan justru merugikan pihak lain," tambahnya.
M. Akmalul Iksan, Ketua UKM KIAS, menyebut dua alasan memilih film tersebut.
"Film itu diangkat dari novel, yaitu Eminus Dolere karya Arman Dhani. Ini bisa dijadikan contoh bagaimana mempelajari perubahan medium dari teks ke visual," terangnya.
Selain itu, isu yang diangkat sangat "relate" dengan anak muda. "Filmnya ringan, tapi pesannya dalam," pungkasnya.
Diskusi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap bahaya "toxic relationship" dan mendorong mereka untuk membangun hubungan yang sehat dan positif.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 7Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?




