Mengenal Motif Batik Tugu Tri Dharma dari Desa Girilayu Karanganyar, Upaya Melestarikan Warisan Budaya dan Filosofi Ajaran Pangeran Sambernyawa

AKURAT.CO, Desa Girilayu, terletak di Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, menjadi sentra pembatikan yang kaya akan sejarah.
Sejak zaman Mangkunegara I, desa ini telah menjadi bagian penting dari warisan budaya Jawa, terutama dalam pengembangan batik yang merupakan kekayaan seni dan tradisi yang tak ternilai.
Kepopuleran Desa Girilayu tak lepas dari keberadaan kompleks Astana (makam) Mangadeg dan Astana Giribangun berada.
Astana Mangadeg merupakan makam Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I yang bernama Raden Mas Said atau dijuluki Pangeran Sambernyawa, beserta raja-raja dan bangsawan Mangkunegaran.
Sementara Astana Giribangun dikenal sebagai lokasi makam Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, beserta ibu Tien Soeharto
Pilihan pekerjaan membatik telah menjadi bagian hidup bagi sebagian besar masyarakat Girilayu, selain bertani.
Ini menjadikan batik-batik dari Girilayu memiliki pengaruh kuat dari batik Surakarta, terutama Keraton Mangkunegaran, baik dari segi teknik, bahan, pewarnaan, maupun motif.
Motif batik Keraton Surakarta ditandai dengan penggunaan warna yang lembut dan harmonis, seperti biru kehitaman, krem, dan merah kecokelatan.
Sementara batik Keraton Mangkunegaran memiliki gaya desain yang serupa, namun dengan warna kuning dan soga yang lebih sedikit dominan.
Motif batik Mangkunegaran juga dikenal lebih kreatif dan beragam, menjadikannya salah satu kekayaan seni yang tak ternilai.
Salah satu ciri khas dari Batik Girilayu adalah motif Tugu Tri Dharma, yang merupakan inti ajaran yang dimiliki oleh Raden Mas Said, atau Pangeran Sambernyawa.
Ajaran Tri Dharma tersebut diabadikan dalam sebuah tugu yang terletak di kawasan Astana Mangadeg.
Dalam ajaran Tri Dharma ada beberapa pesan yang disampaikan, yakni Mulat Sarira Angrasa Wani (berani melakukan introspeksi), Rumangsa Melu Andarbeni (merasa ikut memiliki) dan wajib melu anggodheli (berkewajiban ikut membela atau mempertahankan).
Ajaran Tri Dharma, yang mengajarkan tentang keberanian untuk introspeksi, rasa memiliki, dan kewajiban untuk membela, diabadikan dalam motif batik dan tugu yang berdiri di antara makam Soeharto dan Pangeran Sambernyawa.
Dalam upaya mempertahankan tradisi batik tulis sebagai warisan budaya, sejumlah komunitas batik pun ada di desa Girilayu, yang tidak hanya melestarikan seni membatik, tetapi juga memperkaya filosofi Tri Dharma.
Mereka berharap bahwa ajaran ini dapat menyebar dan tetap relevan di tengah masyarakat.
Selain misi budaya, dengan adanya batik ini, juga mengusung misi ekonomi dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Girilayu melalui pembuatan dan penjualan batik.
Dengan meningkatkan nilai jual batik Girilayu melalui proses produksi yang cermat dan inovatif, mereka berharap dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat.
Harga batik Girilayu bervariasi tergantung pada motif, tingkat kesulitan penggarapan, dan tingkat keahlian pengrajin.
Batik yang dihasilkan oleh tangan berpengalaman biasanya memiliki nilai lebih tinggi.
Terlebih dalam batik tulis, setiap karya yang dihasilkan selalu unik dan tidak ada yang sama persis, menambah nilai estetika dan eksklusivitas.
Para perajin batik Girilayu juga terus mengasah keterampilan mereka melalui pelatihan dan berbagai ajang lomba.
Pameran menjadi salah satu kegiatan rutin yang penting untuk meningkatkan pemasaran dan jangkauan produk batik Girilayu.
Dengan semangat kebersamaan dan kerja keras, para perajin batik Girilayu terus berkarya dan berinovasi.
Melalui kegiatan ekonomi yang berkelanjutan dan pelestarian tradisi, mereka tidak hanya menjaga keberlanjutan budaya, tetapi juga membawa harapan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Girilayu.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 5Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 6Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 7Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 8Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 9Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?
- 10Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal





