Kisah Pertarungan 35 Hari Anak Sunan Muria Dibalik Sejarah Gerbang Kuno Majapahit yang Ada di Kota Pati

JATENG.AKURAT.CO, Kisah Pertarungan 35 Hari Anak Sunan Muria Dibalik Sejarah Gerbang Kuno Majapahit yang Ada di Kota Pati.
Sekitar dua jam dari Kabupaten Jepara ke arah timur, anda bisa berkunjung ke kota Pati. Disana ada objek wisata sejarah yakni Pintu Gerbang Kuno Majapahit, tempat itu diyakini sebagai peninggalan zaman Kerajaan Majapahit.
Melansir dari berbagai sumber, Objek wisata Gerbang Kuno Majapahit ini berada di Desa Muktiharjo Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Warga sekitar juga menyebut tempat itu sebagai “Gapura Majapahit”.
Tempat itu kini menjadi objek wisata sejarah yang ramai dikunjungi oleh warga luar kota dan anak-anak sekolah.
Namun tahukah anda, ternyata ada kisah anak Sunan Muria yang terkait Gerbang Kuno Majapahit itu. Simak cerita lengkapnya.
Kisah Pertarungan 35 Hari Anak Sunan Muria Dibalik Sejarah Gerbang Kuno Majapahit
Kisah ini dituturkan oleh Budi Santoso, Pria 83 tahun yang menjadi juru kunci tempat tersebut.
Budi menceritakan kalau pada masa Sunan Muria sekitar tahun 1479. Saat itu kanjeng Sunan Muria yang memiliki istri bernama Dewi Hapsari.
Dari hasil pernikahan itu dikaruniai anak yang diberi nama Raden Bambang Kebo Nyabrang.
Baca Juga: Menyiasati Cuaca Panas dengan Liburan ke 6 Objek Wisata Adem di Kabupaten Semarang
Namun ceritanya Ibu Raden Bambang meninggal dunia usai melahirkan. Hasilnya Raden Bambang Kebo Nyabrang diasuh oleh kakeknya sampai dewasa.
Setelah dewasa, Raden Bambang Kebo Nyabrang datang menemui Sunan Muria. Akan tetapi Sunan Muria belum mempercayai jika Raden Bambang Kebo Nyabrang adalah anaknya.
Lantas Sunan Muria meminta untuk membuktikan Raden Bambang Kebo Nyabrang untuk membawakan pintu gerbang Majapahit.
Pintu Gerbang Majapahit itu dikenal juga dengan sebutan Bajang Ratu dari bekas Kerajaan Majapahit. Dan dalam waktu sehari Raden Bambang harus bisa membawanya sampai di Gunung Muria.
Di sisi lain, murid Sunan Ngerang yang namanya Raden Ronggo akan mempersunting wanita bernama Roro Puji Wati, Roro Puji Wati juga minta mahar yang berupa Bajang Ratu atau Pintu Gerbang Majapahit tadi, dan harus membawa ke calon istrinya itu dalam tempo satu hari.
Pada saat itu, Benda yang bernama Bajang Ratu itu masih ada di bekas Kerajaan Majapahit, di Desa Trowulan, Mojokerto.
Singkat cerita, Raden Ronggo berangkat ke sana tapi keduluan oleh Raden Bambang Kebo Nyabrang di arah ke barat. Lalu ia kejar sampai di barat Kota Pati.
Baca Juga: Empat Unsur Budaya Meriahkan Semarang Night Carnival, Mbak Ita: Ajang Promosi Wisata
Keduanya lalu ketemu di daerah Pati yang sekarang dikenal dengan Dukuh Rendole Desa Muktiharjo. Keduanya bertarung untuk saling merebutkan gerbang Majapahit itu.
Konon petarungan Raden Bambang Kebo Nyabrang versus Raden Ronggo berlangsung selama 35 hari tanda henti. Dalam pertarunga itu juga tak ada yang menang ataupun kalah.
Sampai akhirnya Sunan Muria mengetahui hal itu dan datang ke lokasi keduanya bertarung.
Saat Sunan Muria minta kedua untuk berhenti berperang, beliau berkata 'wis le podo lerenno, wong sak loro kok podo bandole' (sudah pada berhenti kalian, kedua anak ini kok sama keras kepala).
Di akhirnya cerita, Sunan Muria mengakui Raden Bambang Kebo Nyabrang sebagai anaknya. Sedangkan Raden Ronggo kembali menemui calon istrinya dengan hanya membawa serpihan gerbang Mapajahit.
Karena Pintu Gerbang itu tak bisa dibawa ke Gunung Muria, akhirnya pintu gerbang tersebut disuruh di jaga di lokasi tersebut yang kini menjadi tempat Pintu Gerbang Majapahit berada sekarang.
Sebagai informasi, Gerbang Majapahit berukuran 3,5 x 3,5 meter. Terlihat di gerbang itu terdapat banyak ukiran. Seperti gambar pewayangan hingga Patih Gajah Mada yang diukir dengan kepala raksasa.
Bangunan Gerbang Majapahit terbuat dari kayu jati. dan kondisi bangunan itu pun masih terjaga sampai sekarang.
Menurut juru kunci Gerbang Kuno Majapahit, Budi Santoso, bangunan itu dibuat sekitarnya tahun 1318 pada masa Raja Damarwulan.
Meskipun tergolong bangunan tua, kondisi Gerbang Kuno Majapahit ini terbilang cukup terawat, selain itu lokasinya juga sejuk dan adem karena banyak pepohonan dan kini menjadi objek wisata Sejarah. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 5Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 6Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 7Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 8Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 9Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?
- 10Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal






