Jateng

Mengatasi Stunting, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo Bicara Terkait Strategi Penanggulangan dan Peran Kader PPKBD

Arixc Ardana | 25 Maret 2024, 21:21 WIB
Mengatasi Stunting, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo Bicara Terkait Strategi Penanggulangan dan Peran Kader PPKBD

AKURAT.CO, Stunting, masalah serius yang menimpa pertumbuhan fisik dan kognitif anak, menjadi perhatian utama di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Untuk menghadapi tantangan ini, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggarisbawahi pentingnya peran makanan, ukuran porsi, dan kondisi lingkungan dalam upaya pencegahan stunting.

Hal itu disampaikan Kepala BKKBN dr Hasto Wardoy odalam talkshow di depan 600-an kader PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) dan Sub-PPKBD se-Jawa Tengah di Gedung Sasana Widya Praja, BPSDMD Jawa Tengah, Semarang, Senin (25/3/2024).

dr Hasto menjelaskan bahwa penanganan stunting melibatkan tiga aspek utama: makanan, ukuran porsi, dan kondisi lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, juga menyampaikan pentingnya asupan protein hewani, seperti daging, telur, dan ikan, dalam pola makan anak-anak.

Ia menyoroti keberadaan asam lemak omega-3 DHA dalam ikan lele, yang bermanfaat bagi pertumbuhan otak anak.

Namun, tidak hanya makanan yang menjadi fokus, tetapi juga ukuran porsi yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Lebih lanjut, Dr. Hasto menekankan pentingnya kondisi lingkungan, seperti kebersihan rumah dan sanitasi, yang turut memengaruhi kesehatan anak.

Kondisi lingkungan yang buruk dapat meningkatkan risiko penyakit, seperti diare dan TBC, yang dapat memperburuk kondisi stunting.

Dalam upaya mencegah stunting, Dr. Hasto menyampaikan lima pilar strategis yang harus diperhatikan.

Pertama, komitmen pimpinan yang harus menjadi contoh dan pendorong utama dalam upaya pencegahan stunting.

Di Provinsi Jawa Tengah, komitmen ini dinilai sangat tinggi.

Kedua, pentingnya sistem penyebaran informasi yang masif.

Informasi mengenai kebijakan dan program pencegahan stunting harus disampaikan secara luas dan menyeluruh kepada masyarakat.

Diperlukan strategi komunikasi yang efektif agar pesan tersebut dapat tersampaikan dengan baik.

Pilar ketiga adalah konvergensi program dan pendanaan. Program pencegahan stunting harus terintegrasi dengan baik dan mendapatkan pendanaan yang memadai, tanpa adanya pengalihan dana untuk keperluan lain.

Keterjangkauan gizi dan pangan menjadi pilar keempat yang tidak boleh diabaikan.

Dr. Hasto menyoroti pola konsumsi masyarakat terhadap makanan populer seperti cilok, yang mungkin kurang mengandung nutrisi yang dibutuhkan anak-anak.

Diperlukan kesadaran akan pentingnya variasi makanan yang seimbang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

Terakhir, pendataan dan evaluasi menjadi kunci dalam menilai efektivitas program pencegahan stunting. Dengan adanya sistem informasi seperti SIGA, pemerintah dapat melacak dan mengevaluasi capaian serta perubahan angka stunting secara terperinci.

Terkait dengan peran kader PPKBD, Dr. Hasto menegaskan bahwa mereka memegang peranan kunci dalam menjangkau masyarakat dan melakukan sosialisasi mengenai pencegahan stunting.

Para kader ini terlatih untuk melakukan pendataan dengan efisien, bahkan dalam kondisi pandemi seperti saat ini.

Mereka juga dilengkapi dengan pengetahuan melalui pelatihan virtual sehingga dapat memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, menyoroti pentingnya pendataan yang akurat dalam menangani masalah stunting.

Pendekatan berbasis data dianggap lebih efektif dalam merumuskan kebijakan dan program intervensi yang tepat sasaran.

Dalam upaya mencapai target penurunan prevalensi stunting, tantangan yang dihadapi memang besar.

Namun, dengan komitmen tinggi dari berbagai pihak serta strategi yang terukur dan terintegrasi, harapan untuk mengatasi stunting di Indonesia bukanlah hal yang mustahil.

Peran kader PPKBD sebagai ujung tombak dalam upaya ini menjadi kunci utama dalam mencapai kesuksesan tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.