Jateng

Heboh! Aktivis Sayap Kanan AS Tewas Ditembak, Ternyata Sempat Puji Pergerakan Anak Muda Konservatif di Asia

Theo Adi Pratama | 11 September 2025, 13:02 WIB
Heboh! Aktivis Sayap Kanan AS Tewas Ditembak, Ternyata Sempat Puji Pergerakan Anak Muda Konservatif di Asia

JATENG.AKURAT.CO, Kabar mengejutkan datang dari Charlie Kirk, seorang aktivis politik sayap kanan AS yang terkenal.

Dalam tur perdananya di Asia, ia sempat melontarkan pernyataan kontroversial tentang kebangkitan kaum muda konservatif.

Namun, seminggu setelah lawatannya, Kirk tewas ditembak di leher saat menghadiri sebuah acara di Utah.

Kematiannya menyisakan pertanyaan besar tentang pesan yang ia sampaikan, terutama di tengah meningkatnya perpecahan politik global.

Kebangkitan Konservatisme di Korea Selatan dan Jepang

Charlie Kirk, yang berusia 31 tahun, dikenal sebagai sosok yang membantu menggaungkan agenda Donald Trump kepada para pemilih muda di AS.

Dalam kunjungannya ke Seoul untuk konferensi konservatif Build Up Korea 2025, ia disambut dengan meriah.

Para peserta konferensi bahkan mengacungkan ponsel mereka dan meneriakkan "USA" saat Kirk naik ke atas panggung dengan diiringi pertunjukan kembang api.

Dalam pidatonya, Kirk menyatakan bahwa "fenomena anak muda, terutama pria, yang beralih menjadi konservatif terjadi secara simultan di berbagai benua."

Ia menyebutkan bahwa fenomena ini tidak hanya unik di AS dan itulah mengapa ia memilih Korea Selatan sebagai tujuan pertama tur Asianya.

Konferensi ini juga menampilkan konser ibadah, sesi berjudul "Bagaimana Umat Kristen Dapat Memimpin Dunia," dan pesan video dari perusahaan popok asal Amerika, Everylife.

Perusahaan yang memiliki misi "pro-kehidupan" ini mendorong anak muda Korea Selatan untuk "memiliki lebih banyak bayi," sebuah pesan yang selaras dengan nilai-nilai konservatif.

Setelah Korea Selatan, Kirk melanjutkan perjalanannya ke Tokyo, di mana ia berbicara dalam simposium yang diselenggarakan oleh partai baru Sanseito.

Partai ini berhasil menembus parlemen dengan platform yang memperingatkan adanya "invasi diam-diam" dari imigran.

Dalam sebuah wawancara di YouTube sebelum acara, Kirk menyatakan kegembiraannya.

"Saya bersemangat... untuk belajar dan semoga dapat menyemangati orang-orang di negara hebatmu untuk terus melawan ancaman globalis ini," ujarnya.

Perpecahan Gender dan Politik Global

Peristiwa ini terjadi di tengah tren politik global yang semakin nyata.

Pemilihan umum belakangan ini di Amerika Utara, Eropa, dan Asia menunjukkan perpecahan gender yang mencolok.

Pria muda cenderung memilih partai sayap kanan, sementara wanita muda lebih condong ke kubu kiri.

Perpecahan ini sangat terlihat di Korea Selatan, di mana terjadi pergantian kekuasaan dari kubu konservatif ke Partai Demokrat yang liberal.

Hal ini menjadi bukti bahwa isu-isu sosial seperti gender dan imigrasi kini menjadi faktor penentu dalam arena politik.

Di Jepang, meskipun jumlah penduduk asing hanya sekitar 3%, meningkatnya jumlah turis membuat isu ini lebih terlihat di kota-kota besar.

Isu "migrasi massal" menjadi sorotan di panggung politik Jepang, mirip dengan yang terjadi di AS dan Eropa.

Duka dan Pesan Terakhir

Pemimpin partai Sanseito, Sohei Kamiya, menyampaikan kesedihannya atas kematian Kirk.

Ia menyebut Kirk sebagai "rekan seperjuangan yang berkomitmen membangun masa depan bersama kami."

"Kami sudah berjanji untuk bertemu lagi di acara akhir tahunnya dan sudah membayangkan pekerjaan yang akan kami lakukan bersama," kata Kamiya dalam unggahannya di X.

Dalam podcast-nya seminggu sebelum meninggal, Kirk menegaskan: "Hal-hal yang kami perjuangkan di sini—baik itu peperangan hukum di Korea Selatan atau migrasi massal di Jepang—ini adalah fenomena di seluruh dunia."

Kematian Charlie Kirk tidak hanya menjadi berita duka, tetapi juga menggarisbawahi bagaimana isu-isu politik yang ia perjuangkan telah menjadi isu global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.