Jateng

Kolaborasi Pemda dan BI, Sukses Tekan Inflasi Pangan di Jawa Tengah

Arixc Ardana | 14 Juli 2025, 19:25 WIB
Kolaborasi Pemda dan BI, Sukses Tekan Inflasi Pangan di Jawa Tengah

JATENG.AKURAT.CO, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Provinsi Jawa Tengah pada Juni 2025 sebesar 0,24 persen (month-to-month/m-to-m).

Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,19 persen.

Sementara itu, inflasi year to date (y-to-d) mencapai 1,31 persen, dan inflasi year on year (y-on-y) tercatat sebesar 2,20 persen.

Meskipun tekanan inflasi masih didominasi oleh komoditas pangan, BPS menyatakan kontribusinya terus menurun seiring berbagai langkah pengendalian yang diterapkan oleh pemerintah daerah.

Rembang dan Cilacap Catat Inflasi Tertinggi, Tegal Paling Rendah

Secara spasial, Kabupaten Rembang mencatat angka inflasi paling mencolok di Jawa Tengah dengan 2,67 persen, tertinggi di antara wilayah lain.

Di antara sembilan kota sampel BPS, Kota Cilacap menjadi kota dengan inflasi m-to-m tertinggi.

Sebaliknya, Kota Tegal mencatatkan inflasi paling rendah. Kota Semarang sendiri berada di posisi tengah, yakni di urutan keempat atau kelima.

Beras, Cabai Rawit, dan Bawang Merah Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar

BPS merinci bahwa beberapa komoditas yang memberikan kontribusi besar terhadap inflasi di bulan Juni 2025 antara lain:

  • Beras
  • Cabai rawit
  • Bawang merah
  • Daging ayam ras
  • Telur ayam ras

Di sisi lain, sejumlah komoditas memberikan kontribusi deflasi seperti:

  • Tarif kereta api
  • Bawang putih
  • BBM
  • Cabai merah
  • Minyak goreng

Program Lumpang Semar dan BUMP Diganjar Apresiasi

Salah satu upaya strategis pengendalian harga pangan di Jawa Tengah adalah melalui program Lumpang Semar, yang merupakan inisiatif Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Semarang dan kini direplikasi di 13 daerah lainnya.

Program ini bersinergi dengan Badan Usaha Milik Petani (BUMP) untuk menjaga stabilitas distribusi dan harga pangan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah,Rahmat Dwisaputra,  dalam kegiatan media briefing di Semarang, mengungkapkan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, BI, dan pelaku usaha lokal telah memberi dampak nyata dalam menekan laju inflasi.

“Melalui program Lumpang Semar dan penguatan BUMP, kita tidak hanya mengintervensi harga, tapi juga memperkuat rantai pasok dan posisi tawar petani,” ujar Rahmat.

“Ini bukti bahwa sinergi pusat dan daerah mampu menjaga stabilitas ekonomi masyarakat,” lanjutnya.

Jateng Nomor Empat di Pulau Jawa

Dari sisi perbandingan antarprovinsi di Pulau Jawa, DIY Yogyakarta mencatat inflasi tertinggi, disusul oleh DKI Jakarta.

Sementara Jawa Tengah berada di posisi keempat, dan Banten menjadi provinsi dengan inflasi paling rendah di kawasan.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Jawa Tengah sedikit di atas rata-rata nasional, provinsi ini tetap mampu menjaga stabilitas harga secara relatif.

Komitmen Menjaga Daya Beli Masyarakat

Keberhasilan pengendalian inflasi di Jawa Tengah, terutama dari sisi pangan, menunjukkan bahwa strategi berbasis kelembagaan seperti Lumpang Semar mampu memberikan hasil konkret.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia menegaskan komitmen mereka untuk terus memperluas model ini ke lebih banyak daerah.

Dengan begitu, daya beli masyarakat tetap terjaga, distribusi pangan semakin efisien, dan inflasi dapat dikendalikan secara berkelanjutan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.