Sindhu Laras Bocah: Wadah Kreatif Melestarikan Budaya Leluhur Sambil Mengurangi Ketergantungan Anak pada Gadget

AKURAT.CO, Suara tembang "Menthok-menthok" dengan iringan laras pelog terdengar dari Sanggar Seni Teater Lingkar, Jl. Gemah Sari 8 / 308 Perum. Kini Jaya Kedungmundu, Semarang, Sabtu (21/12/2024).
Salah satu tembang dolanan Jawa yang populer di kalangan masyarakat.
Liriknya yang ringan dan penuh humor mengandung pesan moral yang relevan, yaitu mengingatkan seseorang untuk tidak bermalas-malasan, bekerja keras, dan tidak hanya bersantai tanpa tujuan.
Suara tembang yang diiringi musik gamelan tersebut, bukan dari seniman dewasa, melainkan dari sekelompok anak-anak yang sedang belajar gamelan dan pedalangan di Sanggar Sindhu Laras Bocah.
Sanggar ini telah menjadi ruang belajar seni budaya Jawa yang tidak hanya bertujuan melestarikan warisan leluhur, tetapi juga menjauhkan anak-anak dari ketergantungan gadget.
Berdiri sejak tiga tahun lalu, Sindhu Laras Bocah terus berkembang dan kini memiliki 30 murid aktif.
Budaya Leluhur Sebagai Wadah Positif
Dhananjaya Gesit Widiharto, atau akrab disapa Yaya, selaku pendiri sekaligus kepala sekolah Sindhu Laras Bocah, menjelaskan bahwa gagasan mendirikan sanggar ini berawal dari kebutuhan pribadinya.
“Dulu saya kesulitan membagi waktu untuk mengantar anak ke sekolah seni karena waktu yang terbatas. Akhirnya saya buat sendiri tempat belajar seni untuk anak-anak,” ungkapnya.
Kini, sanggar tersebut menjadi wadah positif bagi anak-anak untuk mengenal budaya Jawa, khususnya melalui seni karawitan dan pedalangan.
Anak-anak diajarkan cara memainkan gamelan, menyanyikan tembang Jawa, hingga belajar seni mendalang dengan harapan kelak mereka menjadi generasi penerus yang dapat mengenalkan budaya leluhur ke dunia.
Mengurangi Ketergantungan Gadget
Yaya menambahkan bahwa salah satu alasan orang tua memasukkan anak-anak mereka ke sanggar ini, selain mengenalkan budaya leluhur seperti macapat, karawitan, atau pedhalangan, juga untuk mengurangi waktu bermain gadget.
"Orang tua sering mengeluh anaknya terlalu lama di depan gadget. Di sini, selama dua jam belajar seni, semua gadget diletakkan. Anak-anak jadi punya waktu berkualitas untuk belajar budaya," ujarnya.
Prestasi yang Menginspirasi
Meski baru tiga tahun berdiri, Sindhu Laras Bocah telah menorehkan berbagai prestasi.
Setiap tahunnya, murid-murid sanggar ini berpartisipasi dalam lomba pedalangan dan berhasil menjadi juara.
Hal ini menjadi motivasi untuk terus berkarya dan memperbaiki metode pembelajaran agar anak-anak tidak merasa bosan.
Apresiasi dari Taj Yasin Maimoen
Turut hadir dalam acara syukuran ulang tahun ke-3 Sindhu Laras Bocah, Wakil Gubernur Jawa Tengah terpilih, Taj Yasin Maimoen.
Dirinya memberikan apresiasi tinggi atas peran sanggar ini dalam melestarikan budaya Jawa.
“Saya senang melihat anak-anak belajar budaya leluhur seperti ini. Ini adalah upaya luar biasa untuk nguri-uri budaya Jawa yang harus kita dukung bersama,” ungkap Gus Yasin.
Menggali Potensi Anak Lewat Seni Tradisional
Dengan perpaduan metode belajar seni yang disiplin namun menyenangkan, Sindhu Laras Bocah telah membuktikan bahwa seni tradisional bisa menjadi cara efektif untuk membangun karakter anak-anak, sekaligus mengurangi ketergantungan mereka pada teknologi.
Sanggar ini tidak hanya mengajarkan anak-anak untuk mencintai budaya leluhur, tetapi juga menciptakan generasi muda yang mampu menjadi duta seni budaya.
Sindhu Laras Bocah adalah bukti nyata bahwa seni tradisional tetap relevan di tengah derasnya arus modernisasi.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 4Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 5Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 6Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 7Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?






