Jateng

Dosen Psikologi USM Berikan Psikoedukasi Work Life Balance di SMK Muhammadiyah Sumowono, Kabupaten Semarang

Afri Rismoko | 26 Juni 2024, 11:22 WIB
Dosen Psikologi USM Berikan Psikoedukasi Work Life Balance di SMK Muhammadiyah Sumowono, Kabupaten Semarang

AKURAT.CO, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Psikologi Universitas Semarang (USM) menggelar Psikoedukasi pentingnya work life balance sebagai upaya menjaga kesehatan mental guru di SMK Muhammadiyah Sumowono, Kabupaten Semarang, baru-baru ini.

Tim PKM terdiri atas Dewi Puspita Sari, S.Psi., M.Si, Irwan Desyatoro, S.Psi., M.Si., dan Hermiana Vereswati, S.Psi., M.Psi. Kegiatan melibatkan dua mahasiswa Fakultas Psikologi USM, Aziz Syarifuddin dan Fatwa Rosyidin.

Menurut Dewi, sebelum memilih melakukan kegiatan, pihaknya sudah melakukan asesmen di SMK Muhammadiyah Sumowono di Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 8 – 9 Sumowono Kabupaten Semarang sehingga kegiatan ini sudah sesuai kebutuahan mitra.

Baca Juga: PSIS Semarang Rekrut Striker Timnas U17, Aulia Rahman, untuk Perkuat Lini Depan

SMK Muhammadiyah Sumowono merupakan salah satu sekolah yang didirikan di bawah lembaga Pimpinan Cabang Muhammadiyah, Kecamatan Sumowono dengan beberapa paket keahlian yaitu teknik dan bisnis sepeda motor dan tata busana.

''Tujuan dari PkM ini untuk memberikan pemahaman mengenai kesehatan mental guru dengan menerapkan work life balance dalam menjalankan pekerjaan mereka sehari-hari supaya tidak mengalami gejala burnout dari kelelahan bekerja,'' ungkap Dewi.

Kegiatan mendapat respons cukup baik dari peserta. Hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan ke narasumber.

Baca Juga: Seleksi Timnas Wanita: Noa Leatomu dan Estella Loupatty Bergabung di Pemusatan Latihan Tim Nasional Wanita Indonesia

''Mereka juga menginginkan kerja sama ini bisa berlanjut sehingga ada lagi kegiatan serupa di sekolah,'' ujarnya.

Dewi berharap, dengan adanya kegiatan ini guru SMK Muhammadiyah Sumowono lebih memahami akan dirinya sendiri dan menjaga kesehatan mental para guru supaya tidak merasakan burnout akibat pekerjaan dan tekanan yang ada di dalam bekerja.

''Dengan begitu mereka lebih tenang dan tidak overthingking dalam menjalani pekerjaan sebagai seorang tenaga pengajar,'' ungkapnya.*

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Afri Rismoko
A