Jateng

Joker: Folie a Deux Gagal di Box Office, Bos Warner Bros Akhirnya Buka Suara

Theo Adi Pratama | 15 Januari 2026, 20:58 WIB
Joker: Folie a Deux Gagal di Box Office, Bos Warner Bros Akhirnya Buka Suara

JATENG.AKURAT.CO, Kegagalan Joker: Folie à Deux di box office global akhirnya mendapat respons resmi dari petinggi Warner Bros Film chiefs Pamela Abdy dan Michael De Luca angkat bicara soal performa mengecewakan sekuel Joker tersebut, sekaligus menjelaskan mengapa film ini sulit diterima penonton arus utama.

Meski menuai kritik dan hasil komersial yang jauh dari ekspektasi, keduanya menegaskan tetap mendukung arah kreatif yang diambil sang sutradara, Todd Phillips.

Bagi penonton usia 18–35 tahun, Joker: Folie à Deux menjadi salah satu contoh paling menarik tentang bagaimana film besar bisa gagal meski membawa nama franchise populer.

Perubahan genre, eksperimen artistik, hingga ekspektasi tinggi pasca kesuksesan Joker (2019) membuat film ini jadi topik panas.

Tak heran, pencarian soal Joker: Folie à Deux gagal, box office Joker 2, dan tanggapan Warner Bros terus meningkat.

Baca Juga: Zoe Saldana Cetak Sejarah sebagai Aktor Film Terlaris Sepanjang Masa

Warner Bros Tetap Bela Joker: Folie à Deux

Dalam wawancara dengan The Wrap, Pamela Abdy secara terbuka mengakui bahwa ia menyukai film tersebut.

Ia menyebut Joker: Folie à Deux sebagai karya yang berani, meski hasil akhirnya tidak sesuai harapan pasar.

Michael De Luca menambahkan bahwa film ini bersifat sangat “revisionist” atau menyimpang dari pakem umum film sekuel.

Menurutnya, pendekatan inilah yang kemungkinan besar membuat Joker 2 gagal terhubung dengan penonton global.

Terlalu Berbeda untuk Penonton Mainstream?

De Luca menilai Todd Phillips dan Scott Silver sengaja menghindari pengulangan cerita.

Alih-alih meniru kesuksesan film pertama, mereka memilih jalur baru yang lebih eksperimental.

Pendekatan ini memang mendapat apresiasi secara kreatif, namun pada akhirnya tidak berhasil menarik minat audiens luas.

Warner Bros mengakui bahwa keputusan untuk tidak “bermain aman” menjadi pedang bermata dua.

Baca Juga: Box Office Terancam Bergeser: 28 Years Later The Bone Temple Siap Kalahkan Avatar 3

Angka Box Office yang Mengecewakan

Joker: Folie à Deux hanya meraih pendapatan sekitar 207 juta dolar AS secara global.

Angka ini sangat jauh dari ideal, mengingat biaya produksinya dilaporkan mencapai 200 juta dolar AS.

Tak hanya itu, film ini juga sama sekali diabaikan oleh Academy Awards, berbanding terbalik dengan Joker (2019) yang sukses besar secara komersial dan meraih berbagai penghargaan Oscar.

Perubahan Besar dari Joker (2019)

Dirilis pada Oktober 2024, Joker: Folie à Deux melanjutkan kisah Arthur Fleck yang diperankan Joaquin Phoenix. Film ini juga memperkenalkan Lady Gaga sebagai Harleen “Lee” Quinzel.

Berbeda dari film pertama yang kental dengan nuansa crime drama psikologis, sekuel ini mengambil risiko besar dengan menggabungkan drama ruang sidang dan elemen musikal.

Perubahan tone inilah yang banyak dianggap sebagai penyebab utama penolakan penonton.

Baca Juga: Box Office Terancam Bergeser: 28 Years Later The Bone Temple Siap Kalahkan Avatar 3

Kritik Negatif dan Respons Studio

Berbeda jauh dari Joker (2019) yang meraup 1 miliar dolar AS di box office global, Joker: Folie à Deux mendapat ulasan negatif dari kritikus dan penonton.

Menanggapi kegagalan ini, Michael De Luca menyebut bahwa dalam industri film, kegagalan adalah hal yang tak terhindarkan.

Ia menegaskan bahwa setiap studio dan kreator pasti pernah mengalami flop, dan yang terpenting adalah belajar tanpa terus menyiksa diri atas proyek yang tidak berhasil.

Warner Bros Bangkit di 2025

Meski Joker 2 gagal, Warner Bros berhasil bangkit pada 2025 dengan sederet film sukses.

Beberapa di antaranya adalah A Minecraft Movie, Sinners, Superman, dan Weapons yang tampil solid di box office.

Selain itu, Abdy dan De Luca juga menyetujui produksi One Battle After Another, film yang kini disebut-sebut sebagai kandidat kuat Best Picture di Oscar 2026.

Kegagalan Joker: Folie à Deux menjadi pelajaran besar tentang risiko kreativitas di film franchise.

Warner Bros mengakui film ini terlalu eksperimental untuk pasar mainstream, namun tetap berdiri di belakang visi Todd Phillips.

Meski hasilnya mengecewakan, sikap studio ini menegaskan bahwa keberanian bereksperimen tetap mendapat tempat—bahkan ketika hasil akhirnya tidak sesuai harapan box office.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.