Wujudkan Kampung Asri, Mahasiswa KKN-T Undip Tanam Tanaman Hias di Sironjang

JATENG.AKURAT.CO, Sebanyak 12 mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T), menunjukkan kontribusi nyata bagi masyarakat dengan melaksanakan program penanaman tanaman Ceplok Piring di Dusun Sironjang, Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Program ini merupakan bagian dari kegiatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bagi Desa Binaan Universitas Diponegoro (IDBU) yang diketuai oleh Prof. Ir. Bambang Sulistiyanto, M.Agr.Sc., Ph.D., IPU.
Program tersebut mengusung misi ganda: menghijaukan lingkungan dusun melalui penanaman tanaman pagar hidup dan mendorong pemberdayaan ekonomi lokal lewat pemanfaatan tanaman Ceplok Piring sebagai komoditas bernilai jual.
Program Lanjutan Pagar Hidup
Kegiatan penanaman ini merupakan lanjutan dari program pagar hidup yang sebelumnya telah dijalankan.
Menurut Ketua RT 01, Dhidhik Kushandaka, program ini dijalankan dengan melibatkan kelompok ibu-ibu PKK di wilayah RT 01 dan RT 02, sebagai bentuk sinergi antara mahasiswa KKN dan masyarakat setempat.
“KKN tematik ini bekerja sama dengan kelompok PKK untuk melakukan penanaman kembali—melanjutkan program pagar hidup dengan menanam Ceplok Piring di sepanjang jalan protokol dari RT 1 sampai RT 2. Harapannya, program ini bisa berjalan sesuai rencana dan menanamkan kesadaran pada warga tentang pentingnya menjaga lingkungan,” ujar Dhidhik.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu pada Minggu, 27 Juli 2025 dan Rabu, 29 Juli 2025.
Sejak pukul 07.00 pagi, mahasiswa bersama warga bergotong-royong menanam Ceplok Piring di beberapa titik strategis, termasuk kawasan wisata Pasar Krempyeng, Mata Air Sendang Curug Sari, dan sepanjang jalan dusun.
Teknik Penanaman: Stek Batang dari Budidaya Lokal
Bibit tanaman Ceplok Piring yang digunakan dalam kegiatan ini berasal dari hasil budidaya lokal milik warga Dusun Sironjang.
Bibit ditanam dengan metode stek batang, yaitu teknik memperbanyak tanaman dengan cara memotong bagian batang dan menanamnya kembali untuk tumbuh menjadi tanaman baru.
Sebelum proses penanaman dimulai, tanah dibasahi terlebih dahulu agar mudah digali. Mahasiswa dan warga kemudian mencangkul tanah, memasukkan batang stek, lalu menutup kembali lubang dengan tanah secara merata.
Ceplok Piring: Tanaman Ikonik Bernilai Estetika dan Ekonomi
Tanaman Ceplok Piring dikenal sebagai tanaman pagar hidup dengan nilai estetika tinggi karena bentuk dan warna bunganya yang mencolok.
Namun lebih dari itu, Ceplok Piring memiliki manfaat relaksasi dari aroma khasnya, dan menjadi salah satu tanaman yang memiliki nilai ekonomi karena diburu untuk keperluan karangan bunga.
“Tanaman Ceplok Piring ini multifungsi. Bisa sebagai pagar hidup yang mempercantik dusun dan juga membantu relaksasi karena aromanya. Ini tanaman yang sangat cocok untuk program penghijauan,” jelas Zulfan Ardiansyah, mahasiswa penanggung jawab program.
Manfaat ekonomis dari tanaman ini ditegaskan oleh Ketua RT 02, Jumadi.
Ia menyampaikan bahwa Ceplok Piring sudah menjadi tanaman ikonik di Pakintelan dan Gunungpati, dan permintaannya terus ada dari para pedagang.
“Ya bagus mas, itu kan tumbuhan ikonik di Pakintelan dan Gunungpati. Banyak pedagang, terutama yang cari daun Ceplok Piring buat karangan bunga, belinya dari warga. Itu bisa masuk ke kas RT juga kalau dikelola. Jadi bukan cuma buat keindahan, tapi juga buat pemasukan,” ungkap Jumadi.
Sinergi Kampus dan Masyarakat: Kecil Tapi Berdampak Besar
Program ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat bisa menghasilkan dampak berkelanjutan.
Mahasiswa tidak hanya menjalankan kewajiban akademiknya melalui KKN, tetapi juga meninggalkan warisan lingkungan yang nyata bagi masyarakat Sironjang.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa UNDIP belajar secara langsung tentang pentingnya pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, serta pengelolaan potensi lokal berbasis komunitas.
Harapan untuk Keberlanjutan
Diharapkan, setelah program ini selesai, masyarakat Sironjang dapat meneruskan inisiatif ini secara mandiri.
Dengan meningkatnya kesadaran akan manfaat ekologis dan ekonomis dari tanaman Ceplok Piring, dusun ini bisa menjadi contoh desa ramah lingkungan yang memanfaatkan tanaman lokal untuk menjaga keseimbangan alam sekaligus menunjang kesejahteraan warga.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 7Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?




