Jateng

Tim Pengabdian FH UNNES Dampingi PW GP Ansor Jateng Untuk Wujudkan Kemandirian dan Independensi Organisasi

Theo Adi Pratama | 5 September 2023, 18:11 WIB
Tim Pengabdian FH UNNES Dampingi PW GP Ansor Jateng Untuk Wujudkan Kemandirian dan Independensi Organisasi

AKURAT.CO,SEMARANG - Gerakan Pemuda Ansor (PW GP Ansor) Provinsi Jawa Tengah yang merupakan salah satu wilayah terbesar di Indonesia telah memiliki agenda-agenda ekonomi untuk mewujudkan kemandirian dan independensi organisasi.

Ada beberapa yang sudah dikembangkan seperti misalnya “Café Angkringan”, membuat Balai Latihan Kerja (BLK), dan Ansor Ritel.

Akan tetapi karena keterbatasan pengetahuan untuk pengelolaan dari legalitas usaha, pembukuan dan pemasaran, maka pengembangan ekonomi berjalan tanpa arah.

Baca Juga: Ketulusan Tanpa Akhir, Jadi Tajuk Pelayanan IOH Kepada Pelanggannya

Oleh karena itu perlu adanya pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen dari latar belakang hukum dan ekonomi untuk mengoptimalkan Badan Usaha Milik Lembaga (BUM-L) sehingga dapat dijadikan sarana mewujudkan kemandirian dan independensi organisasi kemasyarakatan.

Berkaitan dengan persoalan tersebut, tim penelitian dan pengabdian dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) melakukan penelitian dan pengabdian yang bertajuk “Optimalisasi Badan Usaha Milik Lembaga (BUM-L) sebagai Sarana Mewujudkan Kemandirian dan Independensi Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah”.

Baca Juga: Operasi Zebra Candi, Polda Jateng dan Satlantas Polres Demak Sosialisasi ETLE Berbasis Drone

Aziel Masykur SH MH selaku ketua tim mengatakan sampai saat ini, baik angkringan, BLK, atau Ansor Ritel belum optimal untuk memberikan kontribusi kepada organisasi. Padahal angkringan, BLK, ataupun Ansor Ritel menggunakan logo Ansor Jawa Tengah dan fasilitas yang dimiliki Ansor Jawa Tengah.

“Oleh karena itu, dibutuhkan peran serta perguruan tinggi untuk membantu bagaimana membuat usaha-usaha yang dimiliki organisasi atau kader-kader/anggota organisasi memberikan kontribusi yang lebih dan membuat organisasi mandiri,” ujar Aziel pada Selasa (5/9/2023).

Aziel sendiri membawa enam anggota lainnya antara lain Dr Ali Masyhar SH MH yang akan berkontribusi terkait badan hukum dari unit usaha GP Ansor Jawa Tengah, dan Tsalis Syaifuddin SPd MSi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, konsentrasi pada manajemen bisnis Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Selain sebagai akademisi, Tsalis Syaifuddin ini merupakan Wakil Ketua Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah. Aziel sendiri merupakan ahli hukum dari Universitas Negeri Semarang.

Selain itu, diikutsertakan pula empat orang mahasiswa antara lain Akbarta Landa Abdullah, Dede Indraswara, Feiruz Rachmita, Alamsyah, Faikar Sir Zadataqi.

 Baca Juga: Polrestabes Semarang Ungkap Produksi Kosmetik Ilegal

Tim tersebut membuat program, antara lain; Melakukan identifikasi masalah secara komprehensif dengan berkunjung ke Badan Usaha dibawah mitra untuk identifikasi permasalahan serta melakukan kajian kebutuhan.

Kemudian menjalankan pelatihan dengan dua kali FGD untuk mengetahui secara detail permasalahan (FGD 1) lalu mencari solusi masalah legalitas dan manajemen pengelolaan (FGD 2).

Barulah setelah itu tim akan melakukan pendampingan sehingga upaya mewujudkan kemandirian melalui tambahan Income Generating akan tercapai.

Program ini sendiri ditaksir memakan biaya sebesar 1.005.000 rupiah.

“Sampai saat ini legalitas usaha dari angkringan dan Ansor Ritel berdasarkan keterangan pemilik usaha masih menjadi usaha sendiri, sedangkan BLK menjadi milik Gerakan Pemuda Ansor. Kepemilikan ini perlu diberikan legalitas sehingga kedepan menghindari konflik yang berujung permasalahan antara anggota organisasi,” kata Aziel menjelaskan perihal legalitas usaha PW GP Ansor Jateng.

 Baca Juga: Partai Demokrat Gelar Fun Game Multi Turnamen Peringati 22 Tahun Berdirinya DPC Kota Semarang

Sampai saat ini, kata Aziel, keuntungan untuk usaha masih menjadi milik perseorangan, belum ada pembagian.

Sehingga perlu adanya legalitas pembagian keuntungan melalui perjanjian Kerjasama antara orang perseorangan dan PW Ansor Jawa Tengah.

Kemudian untuk merek sudah ada merek yaitu Ansor Ritel dari setiap merchandise, kaos, jaket yang diproduksi, akan tetapi legalitasnya belum ada dan belum didaftarkan.

Terutama yang menjadi brand Ansor Jawa Tengah. Kemudian legalitas Desain Industri ini sangat penting, karena berbagai desain telah dibuat oleh desainer-desainer handal, akan tetapi belum terlegalisasi dengan baik.

Kemudian Café “Penyetan dan Angkringan” yang dibuat oleh PW GP Ansor Jawa Tengah di Tembalang tepatnya berada didepan Balai Latihan Kerja Komunitas milik PW GP Ansor.

Usaha ini mulai dirintis oleh PW GP Ansor dengan harapan dapat dijadikan usaha untuk mewujudkan kemandirian organisasi melalui penambahan kas organisasi.

Usaha ini di jalankan oleh Sekretaris Banser Jawa Tengah, M. Toha dengan neraca keuangan rata pendapatan bersih Rp. 100.000,00 permalam, dengan modal Rp. 150.000 untuk 3 hari.

“Hal ini belum dapat memberikan sumbangan kepada kas organisasi, sehingga perlu dioptimalisasi baik dari segi sarana dan prasarananya maupun manajemennya,” tandas Aziel

Baca Juga: PKB Gas Pol, Sasar Suara Milenial Menangkan AMIN

Potensi anggota Gerakan Pemuda Ansor yang besar menjadi pasar yang sangat potensial.

Oleh karena itu PW GP Ansor Jawa Tengah telah mencanangkan bisnis retail berupa atribut maupun seragam Ansor Banser serta pakaian yang memiliki logo Ansor dan Banser.

Sampai saat ini Gerakan Pemuda Ansor masih mengalami kesulitan untuk menata distribusi sehingga para kader banyak yang mendistribusikan sendiri, sehingga tidak membawa keuntungan bagi organisasi.

Padahal yang dijual adalah produk-produk yang berlogo Ansor dan Banser.

“Ini perlu penertiban dan manajemen yang baik sehingga dapat bermanfaat bagi organisasi,” jelas Aziel.

Akan tetapi karena keterbatasan pengetahuan untuk pengelolaan dari legalitas usaha, pembukuan dan pemasaran, maka pengembangan ekonomi berjalan tanpa arah.

Oleh karena itu perlu adanya pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen dari latar belakang hukum dan ekonomi untuk mengoptimalkan Badan Usaha Milik Lembaga (BUM-L) sehingga dapat dijadikan sarana mewujudkan kemandirian dan independensi organisasi kemasyarakatan.

Ketika organisasi sebesar Gerakan Pemuda Ansor dan Banser mandiri dan independent maka Gerakan organisasi akan membawa dampak yang luas di masyarakat, sebaliknya jika tidak mandiri dan independent, organisasi GP Ansor dan Banser rentan dijadikan sasaran untuk mewujudkan kepentingan pragmatis sesaat.

“Rencana tindak lanjut dari pelaksanaan pengabdian kepada Masyarakat ini adalah membuat iuaran pengabdian berupa artikel ilmiah dan KI berupa Hak Cipta. Selanjutnya kedepan pada tahun 2024, jika disetujui untuk dilakukan pengabdian lanjutan akan dilakukan pendampingan legalitas usaha,” tutup Aziel.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.